opini

Mahasiswa dan Demokrasi: Menjawab Tantangan di Tengah Kebisuan

Kamis, 23 Januari 2025 | 05:51 WIB
Zidan Fathur Rahman adalah mahasiswa aktif di Universitas Putra Indonesia, Fakultas Ekonomi.

Di tengah derasnya modernisasi, idealisme di kampus semakin terpinggirkan. Kampus yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi pemikiran kritis kini kehilangan arah. Mahasiswa, sebagai agen perubahan sosial, sering terjebak dalam rutinitas akademik yang mengutamakan pencapaian praktis daripada pencarian makna hidup yang mendalam. Akibatnya, kampus tidak lagi menjadi medan pertempuran gagasan, melainkan sekadar pabrik lulusan teknokratik yang abai terhadap nilai moral dan etika.

Demokrasi yang menjadi roh kehidupan kampus kini hanya menjadi jargon tanpa substansi. Organisasi mahasiswa, yang semestinya menjadi wadah pengembangan nilai-nilai demokrasi, kerap terjebak dalam dilema besar. Alih-alih menjadi ruang yang menantang kekuasaan, banyak organisasi mahasiswa justru melanggengkan dominasi yang ada. Apatisme mahasiswa menjadi ancaman serius yang sering diabaikan. Suara kritis yang mencerminkan kesadaran sosial kerap dibungkam atau tidak digubris. Gagasan yang menantang status quo lebih sebih dianggap sebagai ancaman daripada kontribusi.

Organisasi mahasiswa seringkali terjebak dalam birokrasi yang yang justru memperparah hirearki. Prinsip partisipasi, yang menjadi pilar demokrasi, sering berubah menjadi formalitas belaka. Diskusi yang seharusnya bebas dari dominasi kelompok tertentu malah dikendalikan oleh kepentingan kekuasaan. Konsesus yang dihasilkan melalui manipulasi dan rekayasa hanya memperlemah nilai-nilai demokrasi. Ruang yang semestinya menjadi tempat perjuangan kesetaraan berubah menjadi arena mempertahankan ketidakadilan.

Namun, meski situasi ini mengkhawatirkan, kampus tetap memiliki potensi besar untuk menghidupkan kembali demokrasi. Demokrasi kampus tidak boleh terbatas pada prosedur formal seperti pemilu dan rapat organisasi. Demokrasi yang utuh membutuhkan ruang publik, di mana setiap suara dihargai tanpa dominasi, dan perdebatan dilakukan secara terbuka. Perbedaan pandangan harus diterima sebagai kekayaan, bukan ancaman.

Dirkursus menjadi inti demokrasi. Mahasiswa yang terlibat dalam percakapan bebas tanpa tekanan struktural akan menciptakan pemahaman kolektif yang mendorong perubahan. Diskusi yang terbuka memungkinkan gagasan baru tumbuh subur. Organisasi mahasiswa harus menjadi tempat yang memupuk kebebasan berekspresi. Tanpa dirkursus yang hidup, demokrasi kehilangan makna, dan kampus hanya akan mencetak lulusan yang tidak peduli dengan persoalan sosial.

Demokrasi yang kokoh tidak terbatas pada formalitas. Demokrasi melibatkan keberanian untuk menentang norma-norma yang tidak adil, mempertanyakan kebijakan yang merugikan, dan melawan ketidakadilan di setiap lini. Dalam hal ini, idealisme mahasiswa memainkan peran penting. Idealisme bukan sekadar wacana kosong, melainkan dorangan moral untuk menegakkan keadilan, meski harus menghadapi tekanan besar.

Idealisme harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang mampu menggerakkan perubahan.
Kampus harus menjadi ruang yang membentuk individu dengan keberanian moral dan intelektual. Organisasi mahasiswa harus menjadi wadah untuk menguji dan mengembangkan gagasan kritis yang relevan dengan realitas.

Demokrasi kampus tidak akan hidup hanya melalui retorika. Demokrasi yang berkembang ketika mahasiswa berani mendengar, berdialog, dan bertindak.


Jika kampus dan organisasi mahasiswa tidak lagi dapat diandalkan untuk menyuarakan perubahan, maka siapa yang akan menjaga demokrasi di tengah kebisuan yang merajalela?

Apakah mahasiswa akan terus terperangkap dalam rutinitas yang menyesatkan, ataukah mereka akan kembali menemukan keberanian untuk menjadi agen perubahan? Jawaban atas tantangan ini ada di tangan setiap mahasiswa yang berkomitmen pada prinsip-prinsip demokrasi dan perjuangan melawan ketidakadilan.

Biodata Penulis:
Zidan Fathur Rahman adalah mahasiswa aktif di Universitas Putra Indonesia, Fakultas Ekonomi. Selain itu, Zidan juga menjabat sebagai Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Tjiandjur periode 2024–2026, dengan tanggung jawab di bidang pembinaan aparatur organisasi.

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB

Menenun Kebangkitan Adab

Rabu, 20 Mei 2026 | 18:20 WIB