Orang egosentris sering kali kurang mampu memahami perasaan dan kebutuhan orang lain.
Sikap ini bertentangan dengan prinsip ithar (mendahulukan orang lain) dalam Islam. Allah SWT berfirman:
وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ
"Dan mereka mendahulukan (kepentingan orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan."
(QS. Al-Hasyr: 9)
Ayat ini menunjukkan teladan generasi sahabat yang lebih mengutamakan orang lain, meskipun mereka sendiri dalam kesusahan. Hadits Nabi SAW:
لَا يُؤۡمِنُ أَحَدُكُمۡ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفۡسِهِ
"Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta dan empati adalah bagian dari keimanan. Orang yang egosentris harus melatih dirinya untuk peduli terhadap sesama.
4. *Hipersensitif terhadap Kritik*
Orang egosentris sering merasa tersinggung ketika menerima kritik, bahkan cenderung membenci orang yang memberinya nasihat. Sikap ini sangat dikecam dalam Islam karena berlawanan dengan adab menerima kebenaran. Allah SWT berfirman:
وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin."
(QS. Adz-Dzariyat: 55)
Ayat ini menegaskan bahwa menerima nasihat dan kritik adalah ciri orang beriman. Menolak kritik menunjukkan adanya kesombongan. Hadits Nabi SAW:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
"Agama adalah nasihat."
(HR. Muslim, no. 55)
Ibnu Taimiyah berkata:
الْعَاقِلُ مَنْ قَبِلَ الْحَقَّ، وَإِنْ جَاءَ مِنْ غَيْرِهِ
"Orang yang bijak adalah yang menerima kebenaran, meskipun kebenaran itu datang dari selain dirinya."
(Majmu’ Fatawa, 20/229)
Sehingga dengan demikian, keperibadian egosentris bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan Islam, seperti kerendahan hati, empati, dan kesediaan menerima nasihat. Islam memberikan solusi untuk menghindari sifat egosentris melalui introspeksi diri, tawadhu, dan penguatan hubungan sosial berdasarkan nilai kasih sayang. Seseorang yang mampu mengendalikan sifat egosentris akan mendapatkan ketenangan hidup dan kemuliaan di dunia maupun akhirat.
*Sebab-Sebab Egosentris dalam Perspektif Islam*
Sifat egosentris tidak muncul begitu saja. Ia terbentuk melalui berbagai faktor yang memengaruhi cara pandang seseorang terhadap diri sendiri dan orang lain.
Dalam Islam, setiap manusia dianjurkan untuk memahami dirinya (muhasabah) agar dapat menghindari sifat yang merugikan ini. Berikut adalah sebab-sebab utama egosentris beserta uraian dan solusi dalam perspektif Islam.
1. *Pengalaman Masa Kecil*
Lingkungan keluarga yang kurang kasih sayang atau terlalu menekankan prestasi dapat membentuk sifat egosentris. Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini sering kali merasa tidak cukup baik atau berharga kecuali jika mereka mencapai sesuatu yang diakui oleh orang lain. Allah SWT berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..."
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan tanggung jawab keluarga, khususnya orang tua, dalam memberikan kasih sayang dan pendidikan akhlak yang baik agar anak-anak tidak tumbuh dengan sifat negatif seperti egosentris. Hadits Nabi SAW:
مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
"Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih baik daripada pendidikan akhlak yang mulia."
(HR. Tirmidzi, no. 1952)
Anak yang mendapatkan pendidikan akhlak akan memahami pentingnya berbagi, bersikap rendah hati, dan menghormati orang lain. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:
وَإِنَّ أَكْبَرَ أَسْبَابِ ضَعْفِ الْإِيمَانِ هُوَ إِهْمَالُ الْأُسْرَةِ فِي تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ
"Salah satu sebab terbesar lemahnya keimanan adalah kelalaian keluarga dalam mendidik anak-anak."
(Al-Tarbiyah al-Islamiyyah, 1/75)