Sirna Ing Bhumi: Keruntuhan yang Tak Terelakkan
Pada tahun 1579, pasukan Banten di bawah Maulana Yusuf melancarkan serangan besar-besaran ke Pakuan Pajajaran. Dengan kekuatan penuh, mereka berhasil menembus pertahanan yang selama ini menjadi kebanggaan kerajaan. Menurut naskah-naskah lama, termasuk Carita Parahiyangan, benteng Pakuan akhirnya jatuh karena pengkhianatan seorang komandan yang membuka gerbang bagi pasukan musuh.
Dengan jatuhnya Pakuan, kerajaan Hindu terakhir di Tanah Sunda pun lenyap. Pajajaran sirna ing bhumi, hilang dari muka bumi, meninggalkan kenangan pahit bagi rakyatnya. Pada saat itu, tanggal 11 Rabiulawal 987 Hijriah atau 8 Mei 1579 M menjadi penanda akhir dari sebuah peradaban besar.
Peninggalan yang Tak Ternilai
Meskipun telah sirna, jejak-jejak Pajajaran masih terasa hingga kini, baik melalui prasasti seperti Batutulis maupun kisah-kisah yang tertulis dalam naskah kuno.
Nilai-nilai yang diwariskan oleh para raja Sunda, seperti keberanian, kehormatan, dan cinta terhadap tanah air, tetap menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Keruntuhan Pajajaran bukan sekadar akhir sebuah kerajaan, melainkan awal dari babak baru sejarah Nusantara, yang terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa ini.