Maka Islam harus hadir dengan solusi. Tengoklah hari kemarin dengan rasa syukur. Seraya pandang hari esok dengan keyakinan dan tawakkal. Yakin bahwa segala hal ada dalam genggaman Allah, seraya sepenuh hati menggantung harapan pada Yang memilki langit dan bumi.
Ketiga, manusia mengalami “pembelahan” yang dalam (deep division). Pembelahan manusia ini bisa dalam banyak hal. Salah satunya yang paling kronis saat ini adalah pembelahan manusia dalam ras (racial division).
Ada tendensi arogan yang disebut rasisme dan perasaan superioritas karena warna kulit (racial supremacy). Sejarah koloanisasi di negara-negara Afrika dan Asia juga tidak bisa dipisahkan dari adanya rasa superioritas bangsa-bangsa Eropa.
Di sinilah harus Islam hadir kembali menawarkan “kesatuan dalam keragaman” manusia. Bahwa manusia itu memang secara alami ragam. Tapi pada saat yang sama manusia berada dalam “kesatuan keluarga Universal” (Universal human family”.
Sebagaimana difirmankan Allah: “Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Sesungguhnya yang termulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (Al-Hujurat: 13). Rasulullah SAW kemudian menegaskan: “Ayah kalian itu satu. Semua kalian dari Adam dan Adam itu tercipta dari tanah”.
Keempat, manusia saat ini sedang mengalami krisis moral, bahkan berada di ambang kehancuran moralitasnya. Moralitas itu adalah batas pembeda antara apa yang baik dan buruk. Dengan moralitas manusia membedakan dirinya dari makhluk Allah yang lain.
Ketika manusia kehilangan pegangan moralitas maka mereka akan cenderung berprilaku hewani, bahkan lebih buruk dari hewan (ulaaik kal-an’ami bal hum adhollu”. Apa yang kita saksikan saat ini adalah prilaku sosial manusia di mana moralitàs tidak lagi jadi tolak ukur. Ukuran kebaikan atau kejahatan ada pada “hawa nafsu dan egoisme” manusia.
Ketika tatanan moralitas hancur maka sesungguhnya kemanusiaan itu mengalami kehancuran. Sekuat apapun sebuah bangsa secara ekonomi, politik dan militer, jika moralitas telah hancur maka bangsa itu adalah bangsa yang sejatinya mengalami kehancuran. Segala fenomena menunjukkan bahwa manusia berada di ambang kehancuran itu.
Di sinilah Islam harus hadir membawa panduan nilai-nilai moralitas yang solid. Nilai-nilai moralitas itulah menjadi ukuran “kebaikan dan keburukan”. Dan itu ditentukan oleh “!Al-Furqan” atau pembeda kebenaran dan kebatilan. Itulah Al-Qur’an.
Kelima, manusia mengalami gagal kontrol terhadap tendensi egoistik dan kerakusan. Berbagai kerusakan, termasuk peperangan dan pengrusakan lingkungan hidup sesungguhnya disebabkan oleh ego dan kerakusan yang tak terkontrol itu.
Di sinilah Allah memberikan peringatan keras dan tegas di Surah An-Nazi’at: “Dan ingat ketika Ketukan besar itu telah tiba. Di kala itulah manusia akan ingat apa yang telah diperbuatnya.
Maka barangsiapa yang melampaui batas dan lebih mementingkan kehidupan dunia maka nerakalah tempat kembalinya. Tapi barangsiapa yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan hawa nafsunya maka syurga adalah tempat kembalinya”.
Berbagai “jahim” (penderitaan) yang dialami oleh manusia saat ini disebabkan oleh kegagalan manusia dalam mengontrol ego dan hawa nafsu. Termasuk di dalamnya kerakusan duniawi (aatsaral hayaata ad-adunya). Akibatnya bukan lagi halal-haram atau benar-salah yang menjadi pertimbangan. Tapi apa yang dikehendaki oleh ego dan hawa nafsunya.
Itulah lima permasalahan-permasalahan mendasar
yang sedang menimpa dunia dan kemanusiaan saat ini. Problema-problema mendasar ini yang menjadikan manusia kehilangan nilai kemanusiaannya. “Insaniat” (kemanusiaan) manusia menjadi hampir saja sirna yang berakibat kepada prilaku-prilaku hewani yang hewan pun tidak akan melakukannya. Manusia menjadi kehilangan hati (heartless) dan rasa kemanusiaan (human sense). Karenanya manusia semakin kejam, sadis dan bringas melebihi harimau di hutan belantara.
Apa yang kita saksikan di Gaza/Palestina, termasuk eksposur kekekejaman rezim Assad di Suriah menjadi bukti-bukti hilangnya kemanusiaan manusia. Maka manusia kehilangan pijakan moral untuk dikategorikan manusia lagi. Bahkan boleh jadi apa yang disebutkan Al-Quran menjadi nyata. Bahwa ada manusia yang tidak lagi manusia secara hakikat. Walau sscara fisik nampak seperti manusia. Tapi mereka bagaikan hewan bahkan lebih jahat dari hewan.