Berbagai kezholiman, kekerasan, pembantaian, pembunuhan massal secara keji di bumi Syaam pasti akan berakhir. Tak ada sekecil keraguan dalam dada para Mukmin tentang realita ini. Sejarah para penguasa zholim selalu berujung pada kehancuran dan kehinaan. Karenanya Allah mengingatkan: “berhati-hati dengan kezholiman karena kezholiman adalah kegelapan di hari Kiamat”.
Lima, peristiwa Bumi Syaam membuktikan bahwa sektarianisme dan perpecahan hanya mengantar kepada kelemahan dan kekalahan. Peristiwa demi peristiwa pahit yang terjadi di bumi Syaam, langsung atau tidak, disebabkan oleh sektarianisme.
Runyamnya lagi seringkali sektarianisme dan perpecahan ini sengaja dirancang oleh para penguasa demi melanggengkan kekuasaannya. Allah menyampaikan muslihat jahat Fir’aun ini: “sesungguhnya Fir’aun menjadi angkuh di atas bumi dan menjadikan masyarakatnya berkelompok-kelompok (syia’an)”.
Itulah yang kita saksikan di tanah Syaam, baik di Palestina di mana penduduk/masyarakat Palestina dipecah belah sedemikian tajam. Di Suriah pun demikian, rakyat dibagi-bagi sesuai kepentingan kekuatan besar, termasuk kekuatan luar (Amerika, Rusia, Iran, Turki, dll).
Enam, kelemahan konsep “nation state” (negara kebangsaan). Konsep nation state dimulai setelah Revolusi Francis menggantikan konsep kenegaraan dan kebangsaan yang berdasar keyakinan (ideologi).
Negara-negara yang ada di tanah Syaam (Palestina, Suriah, Jordan) adalah satu ras yang utuh. Mereka satu etnis, satu bahasa, satu budaya. Tapi konsep nation states memecah belah mereka untuk mudah dikuasai dan dikalahkan oleh penjajah.
Tentu yang ingin saya tekankan di sini adalah pentingnya membangun wawasan “common ground” yang lebih solid dibanding sekedar batas-batas geografis yang dirancang oleh para penjajah itu. Masanya dunia Islam membangun kebersamaan di atas keyakinan (keimanan). Walau realitanya negara-negara itu punya batas-batas kenegaraan yang berbeda secara geografis.
Tujuh, kemunafikan mereka bangsa-bangsa kuat, khususnya dunia Barat termasuk Amerika. Berbagai pelanggaran yang terjadi di kawasan tanah Syaam kerap kali kesalahan (blame) itu dilemparkan ke muka mereka yang dikorbankan oleh kemunafikan-kemunafikan global.
Mungkn yang terdekat di benak adalah serangan 7 Oktober yang digaungkan sebagai serangan teror. Padahal bangsa Palestina telah dijajah dan di teror 70 tahun lebih dan Barat tidak saja diam. Justeru mereka memberikan dukungan buta kepada penjajah zionis.
Di mana mereka yang sering berteriak sebagai pembela dan pejuang HAM? Di mana suara mereka yang mendukung kebebasan dan kemerdekaan di saat bangsa Palestina yang punya semua persyaratan untuk merdeka tapi tidak juga didukung untuk merdeka?
The West must not claim to be the champion of Human Rights, while continue to violate the rights of others in the land of Shaam…. Shame on you!
Manhattan, 19 Desember 2024
*Direktur/Imam Jamaica Muslim Center
*Presiden Nusantara Foundation