Sugih mukti sendiri secara filosofis menjadi ungkapan baik lisan maupun tulisan secara umum dlm msy sunda. Pun dengan 'loh djinawi" sebagai motto yg juga di gunakan oleh kabupaten lainnya di luar tjiandjoer pada jaman hindia belanda.
Sahabat Ilham Nurwansah dalam tulisannya melihat Sugih Mukti dari pendekatan Naskah babad atau wawacan merupakan genre karya sastra yang berisi narasi sejarah tradisional dan ditulis menggunakan pola puisi pupuh (Ruhaliah 2018).Dari hasil penelusuran seksama terhadap beberapa naskah bergenre babad atau wawacanyang berisi informasi historiografi tradisional, ditemukan naskah yang mengandung ungkapan"sugih mukti", yaitu Sejarah Cikundul (Widiyanto dkk. 1999), Sajarah Cikundul (VolksalmanakSoenda 1921) dan Babad Menak Sunda (Azhar, Gunawan, dan M. 2023).
Berikut ini kutipan kisahnya:
"Arya Wiratanudatar, pareng eukeur ngaseuk hiris, geus tunggang gunung waktuna, jebul aya aki-aki,maké sing sarwa putih, bersih cahyana mancur, ngarandeg di sisi huma, ku Dalem geus katingali,disampeurkeun bari lajeng dipariksa. [55] Sampéan anu ti mana? asa kakara papanggih, nu ditarosngawalonan, sawadina kaula jin, seja hatur pépéling, réhna anjeun bakal ratu, jeung anjeun bakalrunday, nurunkeun para bupati, tapi anjeun kudu ngalih ngababakan. [56] Ti dieu ngulon pernahna,jeung rada ngidul saeutik, di deukeut Cianjur pisan, di dinya lemahna kuring, watekna Sugih Mukti, jeung jeneng turun-tumurun, reujeung aya tandana, pangguyangan badak putih, éta kudu aya di tengah nagara".
Transformasi sistem politik yang terjadi di Cianjur, setelah lepas dari kekuasaan Mataram, secara umum dapat dikatakan berlangsung dalam tiga periode besar: masa VOC, masa pemerintah kolonial Inggris, dan masa pemerintah kolonial Belanda. Transformasi sistem politik tersebut tidak hanya ditandai oleh perubahan wilayah administratif, pranata-pranata tradisional, tetapi juga oleh adanya perubahan struktur sosial-politik yang bersifat modern di Cianjur.
Dalam masa-masa akhir kekuasaan Mataram di Priangan atau setidaknya pada tahun yang bersamaan dengan proses penyerahan pertama sebagian wilayah Priangan (Priangan Barat) dari Mataram kepada VOC.
Perkembangan Cianjur menjadi sebuah kabupaten ditandai oleh adanya pengakuan VOC terhadap keberadaan Aria Wira Tanu II sebagai regent (bupati) Cianjur pada tahun 1691. Aria Wira Tanu II menjabat bupati Cianjur hingga tahun 1707. Ia sekaligus bisa dikatakan sebagai bupati pertama Cianjur yang mendapat pengakuan dari VOC. (Rieza D.Dienaputra)
Dinamika perubahan politik yang terjadi di Cianjur semasa VOC tersebut jelas menjadi sesuatu yang menarik untuk diamati lebih lanjut. Selanjutnya, mengingat begitu banyaknya komponen-komponen yang dapat diamati dalam hal perubahan politik di Cianjur ini, jelaslah perlu dilakukan pembatasan-pembatasan.
Untuk itu, tulisan ini lebih memfokuskan bahasan sederhana mengenai komponen penanda dalam membedah perubahan logo yg mengacu/bersumber pada buku Nederl-Indische Gemeeentewapens (lambang kota Belanda-India) pengarang Dirk (Jr) Ruhl, tahun penerbitan 1933.
Adapun kemudian perubahan juga dipengaruhi oleh Transformasi politik yang telah terjadi di Cianjur, setelah lepas dari kekuasaan Mataram ke VOC, kolonial Inggris, dan kolonial Belanda, perubahan itu tidak hanya ditandai oleh perubahan wilayah administratif, pranata-pranata tradisional, tetapi juga oleh adanya perubahan struktur termasuk logo kab kota.
Namun demikian tulisan ini bisa membuka ruang diskusi dan upaya penelitian lebih yg lebih kofrehensif berdasarkan sumber sumber/dokumen kesejarahan lainnya...wallahu alam bish shawab