c. Merusak Keharmonisan Masyarakat
Marah yang tidak terkendali dapat menciptakan ketidakstabilan dan ketidakharmonisan dalam masyarakat.
Al-Quran didalam QS. Al-Hujurat: 11
- **نص الآية:**
- "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ"
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain, boleh jadi wanita yang diolok-olok lebih baik dari wanita yang mengolok-olok. Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan julukan yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Ayat ini menekankan pentingnya menjaga keharmonisan dan saling menghormati. Marah yang tidak terkendali menyebabkan perpecahan dan ketidakharmonisan dalam masyarakat.
1. Imam Al-Ghazali:
Al-Ghazali dalam "Ihya' Ulumuddin" menekankan bahwa marah adalah penyakit hati yang harus dihindari. Menurutnya, marah merusak akhlak dan membawa dampak negatif bagi individu dan masyarakat.
2. Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah:
Ibn Qayyim dalam "Madarij al-Salikin" menyatakan bahwa marah adalah salah satu bentuk gangguan emosi yang paling berbahaya. Ia mengajarkan bahwa marah harus diatasi dengan tazkiyatun nafs dan peningkatan ketakwaan.
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, bahwa marah yang tidak terkendali membawa dampak negatif yang besar bagi individu dan masyarakat.
Bahaya bagi individu meliputi dampak kesehatan fisik, mental, dan spiritual, sementara bahaya bagi sosial mencakup kerusakan hubungan sosial, konflik, dan aneka kekerasan yang bisa berakibat Fatal bagi kehidupan dan interaksi sosial.
Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW: Umar bin Khattab dan Pemuda yang Kasar
Salah satu kisah yang sangat menginspirasi tentang menahan marah adalah kisah Khalifah Umar bin Khattab RA ketika menghadapi seorang pemuda yang bersikap kasar kepadanya. Kisah ini mengajarkan banyak hikmah dan manfaat, serta menunjukkan keutamaan menahan marah dari sisi Allah SWT.
Kisah Umar bin Khattab RA:
Suatu hari, Umar bin Khattab RA, yang dikenal sebagai seorang yang tegas dan berani, sedang berjalan di pasar. Seorang pemuda mendekati beliau dan berbicara dengan nada kasar serta menghinanya. Orang-orang di sekitar Umar menahan napas, menunggu bagaimana reaksi sang khalifah terhadap pemuda tersebut.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya dari apa yang mereka duga. Umar bin Khattab RA menahan amarahnya dan berbicara dengan lembut kepada pemuda itu. Umar berkata, "Jika apa yang kamu katakan benar, semoga Allah mengampuni aku. Jika yang kamu katakan salah, semoga Allah mengampuni kamu."
Allah SWT. Berfirman QS. Al-Furqan: 63
“وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا"
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik."
Ayat ini menunjukkan bahwa hamba Allah yang sejati adalah mereka yang bersikap rendah hati dan menahan diri dari amarah, terutama saat dihadapkan dengan orang yang bersikap kasar atau jahil.
Pengajaran dan Hikmah:
1. Kesabaran dan Pengendalian Diri:
Umar bin Khattab RA menunjukkan kesabaran dan pengendalian diri yang luar biasa saat menghadapi pemuda yang kasar tersebut. Beliau memilih untuk tidak merespon dengan marah, melainkan dengan doa dan pengampunan.