Rasulullah SAW. Dalam Hadits Riwayat Bukhari:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ"
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."
Hadits ini menekankan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan mengendalikan diri saat marah. Ini menunjukkan bahwa pengendalian diri adalah aspek penting dalam mencapai kesejahteraan pribadi dan sosial.
Dengan demikian, memahami dan mengendalikan marah bukan hanya penting untuk kesehatan fisik dan mental, tetapi juga esensial untuk menjaga hubungan sosial dan menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai.
Upaya ini memerlukan ketekunan, kesabaran, dan kesadaran diri yang tinggi, serta bimbingan dari ajaran agama dan teladan Nabi Muhammad SAW.
*Ciri-Ciri Orang Marah*
Marah adalah salah satu bentuk emosi yang dapat dikenali melalui berbagai ciri fisik, emosional, dan perilaku. Berikut adalah uraian mendalam tentang ciri-ciri orang marah:
1. Ciri Fisik
Detak Jantung Meningkat:
Saat seseorang marah, sistem saraf simpatis merespons dengan meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Ini adalah reaksi tubuh untuk mempersiapkan diri menghadapi ancaman atau bahaya.
Peningkatan Tekanan Darah:
Tekanan darah meningkat sebagai bagian dari respons tubuh terhadap stres atau marah, memberikan energi tambahan untuk bertindak.
Napas Menjadi Cepat dan Pendek:
Marah dapat menyebabkan seseorang bernapas lebih cepat dan pendek, sebagai bagian dari respons "fight or flight".
Otot Menegang:
Otot-otot tubuh, terutama di wajah, leher, dan bahu, menjadi tegang saat marah. Ini adalah reaksi alami tubuh sebagai persiapan untuk menghadapi konfrontasi fisik.
Allah SWT. Didalam QS. Ali 'Imran: 134:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
Ayat ini menekankan pentingnya menahan amarah. Secara implisit, ini mengakui bahwa amarah dapat memicu reaksi fisik yang perlu dikendalikan untuk mencapai kebajikan.
C. Ciri Emosional
Rasa Frustasi atau Kecewa yang Mendalam: