Oleh: Agung Wibawanto
Ada dua sumber kemampuan, yakni: ilmu dan praksis. Ilmu tanpa praksis adalah percuma. Sedang praksis tanpa ilmu memang seperti orang bodoh, tapi ia bisa belajar dari kegagalannya. Mana yang lebih penting? Mengapa ilmu begitu dicari namun tidak bisa dalam praktiknya?
Sesungguhnya pula, ilmu itu bersumber dari praksis yang dilakukan berulang-ulang, dan sumber dari praksis karena adanya kebutuhan (tuntutan). Perhatikan seekor monyet menggunakan batu untuk memecahkan biji dengan cangkang yang keras. Mereka tidak perlu sekolah tapi bisa memecahkan tuntutan hidup mereka.
Ingat juga nenek moyang kita dulu tidak ada yang menimba ilmu, namun mereka bisa menemukan rempah-rempah untuk pengobatan maupun jenis masakan yang lezat. Mereka mampu membuat perahu layar untuk mengarungi samudera. Menyusun batu hingga mengukirnya indah menjadi bangunan megah, mahakarya.
Sekarang orang takut jika tidak berilmu (sekolah) dan tidak mendapat ijazah maka tidak bisa bekerja. Tidak bekerja berarti tidak hidup. Bukan berarti ilmu dan sekolah tidak perlu, namun ilmu untuk mencapai kecerdasan dapat diperoleh di manapun (cat: tentu saja jika ingin mencarinya).
Penekanan saya adalah, ilmu yang bersumber dari perilaku dan pengetahuan nenek moyang dulu adalah penting untuk diketahui. Dari itulah sekolah menjadi lembaga formal yang terakreditasi untuk mengeluarkan sejenis sertifikasi (ijazah dll), menunjukkan ilmu mumpuni.
Itu saja harusnya sudah cukup, namun faktanya tidak. Ilmu belum cukup untuk menjalani hidup dan kehidupan. Dibutuhkan kemampuan lain seperti yang dilakukan leluhur dahulu, yakni kemauan keras untuk kreatif mengatasi masalahnya sendiri serta mewujudkan tujuan untuk memenuhi kebutuhan.
Kita kerap khawatir anak-anak kita tidak bisa berhitung, tidak hafal rumus kimia, tidak tau dari mana asalnya air di laut, dst. Namun tidak terlalu khawatir ketika anak-anak kerap uring-uringan, mengadu sambil nangis, marah hingga berkelahi di saat mengatasi masalah mereka sendiri.
Kerap maklum pada anak yang tidak kreatif menjaga barang-barang mereka sendiri dan kerap meminta untuk dibelikan yang baru. Mengabaikan life skill education dan lebih suka jika nilai rapot mereka bagus-bagus. Pada akhirnya, anak tidak siap untuk kehidupan yang sesungguhnya nanti. Atau ditinggal di rumah beberapa hari saja bingung.
Ini menjadi tantangan bagi sistem pendidikan kita, ketimbang bahas sekolah berbasis zonasi atau NEM. Sekolah bukan hanya sumber ilmu tapi juga sumber pengetahuan. Namun demikian percuma saja jika hanya berharap kepada sekolah untuk mentransformasi ilmu dan pengetahuan, sementara keluarga dan lingkungan (masyarakat) tidak kondusif.
Semua kita turut bertanggungjawab terhadap tumbuh kembang anak, baik otak, mental dan perilaku. Percuma guru mengajarkan matematika jika di luar sekolah anak menyaksikan ada "kecurangan" dalam sebuah transaksi yang tidak sesuai dengan hitungan (geseh), misalnya.
Percuma orangtua mengajarkan toleransi jika di lingkungan masyarakatnya lebih banyak praktik intoleransi. Mengajarkan taat hukum tapi anak melihat banyak praktik pelanggaran hukum dan itu sudah menjadi kebiasaan. Setinggi apapun ilmu dan bagusnya nilai akademik, tidak akan berguna untuk mengatasi hilangnya kaos kaki anak yang sebelah, misalnya.
So, selain ilmu akademik, mari kita ajarkan juga anak-anak untuk bisa mengatasi masalah mereka sendiri, setidaknya tidak menambah masalah dengan menangis ataupun marah-marah. Ajarkan mereka kemampuan menjawab tuntutan hidup dengan lebih kreatif agar bisa mandiri. Separah-parahnya orang adalah ketika ia tidak berilmu pun tidak mandiri, malesan, manja, tuman dll.