Sekelompok Tata Surya yang secara teratur beredar mengelilingi satu pusat tertentu disebut GALAKSI. Tiap galaksi terdiri dari ratusan hingga milyaran Tata Surya. Salah satu contohnya adalah Galaksi Bima Sakti yang terdiri dari milyaran Tata Surya, dan salah satu Tata Surya di Galaksi Bima Sakti adalah Tata Surya Matahari kita, dimana kita hidup di permukaan salah satu planetnya, yaitu Bumi.
Di alam semesta terdapat ribuan GALAKSI yang secara berkelompok beredar mengelilingi satu pusat tertentu. Sekelompok Galaksi yang secara teratur beredar mengelilingi satu pusat tertentu disebut SUPERKLUSTER.
Salah satu contohnya adalah Superkluster Virgo yang terdiri dari ratusan Galaksi, dan salah satunya adalah Galaksi Bima Sakti, dimana tata surya matahari kita berada. Contoh superkluster lain adalah Superkluster Corona Borealis.
Mata manusia dengan alat teleskop supercanggih sekalipun hingga saat ini hanya mampu mengamati alam semesta sampai Superkluster saja. Di atas Superkluster yakin masih ada langit lagi, dimana Lapisan Langit ke-6 dan ke-7 berada.
Jika teori ketiga tersebut diasumsikan benar secara ilmiah, maka dengan demikian insyaAllah bisa digunakan untuk membuktikan kebenaran dalil Al Qur’an dan Hadist yang menyiratkan bahwa mustahil manusia bisa mencapai Langit ke-7, bahkan langit ke-6, ke-5, ke-4 dan ke-3. Pembuktiannya dengan cara sederhana, yaitu menghitung waktu yang diperlukan oleh manusia, dengan menggunakan kendaraan tercepat saat ini yaitu pesawat luar angkasa berpendorong roket untuk mencapai ujung langit, hanya menggunakan rumus: t = S : V
Dimana, t adalah waktu yang diperlukan, S adalah jarak yang harus ditempuh dan V adalah kecepatan pesawat luar angkasa.
*DATA JARAK (S) ANTARA PERMUKAAN BUMI DENGAN BATAS LANGIT*
*LAPISAN LANGIT* *BATAS LANGIT* *JARAK (S)*
Langit ke-1 Lapisan Terluar Atmosfer 960 km
Langit ke-2 Luar Angkasa antar Planet 4.000.000.000 km
Langit ke-3 Luar Angkasa antar Tata Surya 30.000 Tahun Cahaya
Langit ke-4 Luar Angkasa antar Galaksi 2.500.000 Tahun Cahaya
Langit ke-5 Luar Angkasa antar Superkluster 65.000.000 Tahun Cahaya
Langit ke-6 Belum/Tidak Bisa Dijangkau Manusia -
Langit ke-7 Belum/Tidak Bisa Dijangkau Manusia -
DATA KECEPATAN PESAWAT LUAR ANGKASA
Kecepatan pesawat luar angkasa tercepat saat ini adalah 40.000 km/jam.
Jadi: V = 40.000 km/jam
1 Tahun Cahaya = 9.461.000.000.000 km, maka sama halnya,
V = 0,000000004228 Tahun Cahaya/jam
PEMBAHASAN
1. Waktu yang diperlukan untuk mencapai ujung Langit ke-1 dengan menggunakan pesawat luar angkasa tercepat.
Diketahui: S = 960 km, dan V = 40.000 km/jam
Maka: t = S : V = 960 : 40.000 = 0,04 jam = 2 menit 24 detik
Jadi untuk mencapai ujung Langit ke-1 diperlukan waktu 2 menit 24 detik, jika menggunakan pesawat luar angkasa tercepat saat ini.
2. Waktu yang diperlukan untuk mencapai ujung Langit ke-2 dengan menggunakan pesawat luar angkasa tercepat.
Diketahui: S = 4.000.000.000 km, dan V = 40.000 km/jam
Maka: t = S : V = 4.000.000.000 : 40.000 = 100.000 jam = 11,4 Tahun
Jadi untuk mencapai ujung langit ke-2 diperlukan waktu 11,4 tahun (11 tahun 4 bulan 24 hari),
jika menggunakan pesawat luar angkasa tercepat saat ini.
3. Waktu yang diperlukan untuk mencapai ujung Langit ke-3 dengan menggunakan pesawat luar angkasa tercepat.
Diketahui: S = 30.000 Tahun Cahaya, dan V = 0,000000004228 Tahun Cahaya/jam
Maka: t = S : V = 30.000 : 0,000000004228 = 7.095.553.453.169 jam = 809.440.273 Tahun
Jadi untuk mencapai ujung langit ke-3 diperlukan waktu 809.440.273 tahun meskipun
menggunakan pesawat luar angkasa tercepat saat ini. Mungkinkah manusia bisa….??
4. Waktu yang diperlukan untuk mencapai ujung Langit ke-4 dengan menggunakan pesawat luar angkasa tercepat.
Diketahui: S = 2.500.000 Tahun Cahaya, dan V = 0,000000004228 Tahun Cahaya/jam
Maka: t = S : V = 2.500.000 : 0,000000004228 = 591.296.121.097.445 jam
Atau, t = 67.453.356.273 Tahun
Jadi untuk mencapai ujung Langit ke-4 diperlukan waktu 67.453.356.273 tahun meskipun
menggunakan pesawat luar angkasa tercepat saat ini. Mungkinkah manusia bisa….????
5. Waktu yang diperlukan untuk mencapai ujung Langit ke-5 dengan menggunakan pesawat luar angkasa tercepat.
Diketahui: S = 65.000.000 Tahun Cahaya, dan V = 0,000000004228 Tahun Cahaya/jam
Maka: t = S : V = 65.000.000 : 0,000000004228 = 15.373.699.148.533.585 jam
Atau, t = 1.753.787.263.122 Tahun
Jadi untuk mencapai ujung Langit ke-5 diperlukan waktu 1.753.787.263.122 tahun meskipun
menggunakan pesawat luar angkasa tercepat saat ini. Mungkinkah manusia bisa….??????
6. Ujung Langit ke-6 hingga saat ini belum/tidak bisa dijangkau oleh ilmu manusia, apalagi ujung Langit ke-7.
Sangat perlu penulis tekankan di sini, bahwa seluruh uraian tersebut di atas sama sekali “Bukan Kebenaran Ilmiah”, karena dasar teori yang digunakan hingga saat ini belum diakui “Benar” secara ilmiah, meskipun data-data yang digunakan merupakan data ilmiah, termasuk rumus dan satuan parameter yang digunakan adalah sudah diakui benar secara ilmiah. Tetapi setidaknya inti uraiannya bisa menggambarkan pesona yang luar biasa di akal pikiran kita:
Betapa maha luasnya alam semesta ciptaan Allah, hingga ilmu manusia tidak bisa menjangkau rahasianya kecuali hanya sedikit saja.
Betapa maha jauhnya ujung langit, hingga ujung langit ke-6 pun tidak bisa dilihatnya, apalagi ujung langit ke-7 dimana Sidratul Muntaha berada.
Betapa maha segalanya Allah yang mampu mengendalikan peredaran benda-benda langit yang jumlahnya diperkirakan triliunan lebih sedemikian teraturnya.
Betapa sangat terbatasnya ilmu dan kemampuan manusia, hingga timbul rasa malu untuk menyombongkannya.
Betapa super duper kecilnya manusia jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta ciptaan Allah.
Dalam salah satu riwayat perjalanan Mi’raj Nabi Muhammad SAW dikabarkan, bahwa Beliau bertemu dengan Nabi Adam AS di langit ke-1, bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Isa AS di langit ke-2, bertemu dengan Nabi Yusuf di langit ke-3, bertemu dengan Nabi Idris AS di langit ke-4, bertemu dengan Nabi Harun AS di langit ke-5, bertemu dengan Nabi Musa AS di langit ke-6, dan bertemu dengan Nabi Ibrahim AS di langit ke-7.
Ketika “Teori Ketiga” yang dibahas di depan kemudian dikaitkan dengan riwayat perjalanan Mi’raj di atas, akan muncul kesimpulan yang terkesan tidak masuk akal, bahwa Arwah Nabi Adam AS bersemayam di ruang Atmosfer Bumi, sementara arwah Nabi Yahya AS dan Nabi Isa bersemayam di ruang angkasa tata surya matahari kita, dimana manusia sudah pernah ada yang berkali-kali menembusnya.
Jika perspektif kita terhadap ruang atmosfer dan ruang angkasa tata surya berdasarkan “Dimensi Ruang” (3D), maka sungguh betul bahwa hal tersebut tidak masuk akal.
Tetapi akan berubah menjadi masuk akal jika perspektif kita, dalam memahami ruang atmosfer dan ruang angkasa tata surya, digeser ke dimensi yang lebih tinggi (4D, atau bahkan lebih tinggi lagi), bahwa sesungguhnya arwah Nabi Adam AS, Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS bersemayam di Alam Arwah (dimensinya di atas 3D) yang barangkali lokasinya di ruang atmosfer dan ruang angkasa tata surya.
Ilmu manusia sungguh mustahil untuk mampu menjangkau hakekat alam arwah. Manusia hidup di dimensi ruang (3D). Sementara arwah bersemayam di dimensi yang lebih tinggi dari 3D (mungkin di 4D/5D/6D/7D).
Makhluk dimensi lebih rendah tidak akan mampu menjangkau atau melihat makhluk dimensi lebih tinggi. Sebaliknya makhluk dimensi lebih tinggi akan dengan mudah mampu menjangkau atau melihat makhluk dimensi lebih rendah.
Contoh: Jin dan Malaikat (makhluk 4D) dengan mudah bisa menjangkau atau melihat Manusia Hidup (makhluk 3D). Sebaliknya manusia sungguh tidak bisa menjangkau atau melihat jin dan malaikat, kecuali atas kehendak Allah SWT.