opini

Isra Mi’raj: Perjalanan Maha Dahsyat yang Terjadi Sekali Seumur Dunia

Jumat, 19 Januari 2024 | 10:39 WIB
Ilustrasi Isra Mi'raj (Pixabay/Mohamed_hassan)

 

Oleh: Nanang Gojali (Ketua Komisi Jilit MUI Cianjur) dan Wahyudi (Peminat Astronomi, S2 Lulusan IPB Bogor asal Cianjur dan Dosen Tafsir UIN Bandung)

Di dalam Al Qur’an term-term “Sab’a Samawat” terulang sebanyak 9 kali yang pada intinya memberitakan bahwa Allah menciptakan langit berlapis tujuh.

Hal tersebut diperjelas di dalam peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang meriwayatkan bahwa Nabi dibawa oleh Malaikat Jibril naik ke langit ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, ke-5, ke-6 dan ke-7. Di ujung langit ke-7 itulah Sidratul Muntaha berada, dimana Nabi menerima perintah shalat lima waktu langsung dari Allah SWT.

Sebelum Al Qur’an diturunkan oleh Allah SWT, pernah muncul teori yang menggambarkan langit berlapis tujuh, yang dikemukakan oleh ahli falak kuno di zaman Mesopotamia kuno. Disebutkan bahwa Lapis Langit ke-1 adalah batas antara Bumi dengan Bulan, Lapis Langit ke-2 adalah batas antara Bumi dengan Merkurius, Lapis Langit ke-3 adalah batas antara Bumi dengan Venus, Lapis Langit ke-4 adalah batas antara Bumi dengan Matahari, Lapis Langit ke-5 adalah batas antara Bumi dengan Mars, Lapis Langit ke-6 adalah batas antara Bumi dengan Yupiter, dan Lapis Langit ke-7 adalah batas antara Bumi dengan Saturnus. Apakah teori tersebut bisa diterima secara ilmiah?

Setelah dihipotesiskan berdasarkan “Skala Logaritmik” ternyata teori tersebut bisa di-GUGUR-kan. Logikanya sederhana, bahwa di dalam lapisan langit seharusnya minimal memenuhi kaedah deret aritmatik, yaitu semakin naik tingkat lapisnya, maka akan semakin naik jaraknya dari pusat. Sementara data jarak dari teori tersebut di atas sebagai berikut:

*LAPISAN LANGIT* *BATAS LANGIT* *JARAK*
Langit ke-1 Bumi - Bulan 384.400 km
Langit ke-2 Bumi - Merkurius 77.000.000 km
Langit ke-3 Bumi - Venus 61.000.000 km
Langit ke-4 Bumi - Matahari 150.000.000 km
Langit ke-5 Bumi – Mars 54.600.000 km
Langit ke-6 Bumi – Yupiter 628.700.000 km
Langit ke-7 Bumi – Saturnus 1.200.000.000 km

Bersumber dari berita “saripedia.wordpress.com” terdapat teori lain, bahwa bukti ilmiah langit berlapis tujuh ada pada Atmosfer Bumi. Memang secara ilmiah, berdasarkan perbedaan temperatur udara, tekanan udara dan komposisi gas, ruang atmosfer bumi terbagi menjadi tujuh lapis. Dimulai dari lapisan ke-1 yang berbatasan dengan permukaan bumi disebut Troposfer.

Kemudian disusul lapisan berikutnya secara berurutan yaitu Stratosfer, Ozonosfer, Mesosfer, Thermosfer, Ionosfer dan terakhir pada lapisan ke-7 disebut Eksosfer. Apakah teori ilmiah tersebut masuk akal sesuai dengan yang disuratkan di dalam Al Qur’an mengenai Langit Berlapis Tujuh?

Di dalam ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan term langit berlapis tujuh dan peristiwa Isra’ Mi’raj, maupun di dalam naskah Hadist dengan jelas disiratkan bahwa mustahil manusia mampu untuk mencapai langit ke-7 tanpa kehendak Allah, karena di ujung langit ke-7 bersemayam Sidratul Muntaha.

Barangkali mustahil juga untuk bisa mencapai ujung langit ke-6, ke-5, ke-4 dan ke-3. Jika faktanya demikian, maka teori yang menyatakan bahwa Langit Berlapis Tujuh yang diberitakan Al Qur’an adalah Tujuh Lapisan Atmosfer Bumi, bisa dinyatakan GUGUR.

Logikanya sederhana, hingga saat ini sudah berkali-kali manusia menembus Lapisan ke-7 Atmosfer (Eksosfer) dalam perjalanannya ke luar angkasa, karena jarak antara permukaan bumi dengan ujung lapisan ke-7 atmosfer hanya 960 km. Dalam kaitan ini Allah berfirman,

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ

Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah). (QS.55:33)

Kemudian muncul teori lain dengan perspektif Astronomi juga yang lebih masuk akal, baik secara ilmiah dengan hipotesis Logaritmik maupun (InsyaAllah) berdasarkan dalil Al Qur’an dan Hadist. Teori tersebut menyatakan bahwa:
Langit ke-1 adalah lapisan atmosfer bumi.
Langit ke-2 adalah ruang angkasa antar planet.
Langit ke-3 adalah ruang angkasa antar tata surya.
Langit ke-4 adalah ruang angkasa antar galaksi.
Langit ke-5 adalah ruang angkasa antar superkluster.
Langit ke-6 belum/tidak bisa dijangkau oleh manusia.
Langit ke-7 belum/tidak bisa dijangkau oleh manusia.

Seperti diketahui, bumi pada hakekatnya adalah salah satu PLANET yang bersama dengan beberapa planet lain (merkurius, venus, mars, yupiter, uranus, neptunus, saturnus) beredar mengelilingi MATAHARI dalam garis edar masing-masing. Sistem kumpulan Planet yang secara teratur beredar mengelilingi matahari disebut TATA SURYA.
Di alam semesta terdapat triliunan sistem TATA SURYA yang secara berkelompok beredar mengelilingi satu pusat tertentu.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB