Oleh : Lastri Pramusuari S.
"Tidak ada satu bangsa besar pun di dunia, yang masyarakatnya bukan pegandrung sastra." ~Syajarotul Ilmi
Zaman yang semakin modern cenderung membuat banyak orang terlena oleh segala pesonanya. Baik terlena oleh kemajuan teknologinya, maupun terlena oleh hal-hal kemudahan yang ada di dalamnya. Zaman modern membuat kita terhibur dan tertidur. Terlepas dari segala pesona yang ada di dalamnya, keterlenaan tersebut terkadang membuat seseorang lupa atau bahkan tak sadar dengan potensi dalam dirinya. Sebab, dunia hari ini mengidentikan kata produktif dengan hasil yang berupa materi (terlihat oleh mata). Seolah-olah, produktif dan hasil yang sifatnya materialisme adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Nampaknya dalam konteks pencapaian, dunia hari ini agak kesulitan membedakan antara produktif, sibuk, proses, dan sukses.
Hingga akhirnya, terlalu banyak orang yang lebih fokus kepada apa kemauan pasar (apa yang disukai orang-orang, hal apa yang dianggap sukses oleh orang-orang). Sehingga begitu banyak potensi dalam diri seseorang terpaksa harus ia bunuh sendiri, lalu terkubur dengan sendirinya karena dunia terlalu kaku dalam memandang potensi serta bakatnya. Pandangan dunia terlalu sempit dalam menilai ke-produktif-an seseorang.
Hal tersebut terjadi sebab dunia menganggap bahwa potensi seseorang harus potensi yang dapat meningkatkan etos kerja, melakukan penemuan-penemuan, menjadi ilmuan, serta hal-hal yang dapat menopang seseorang tersebut masuk dalam birokrasi dan instansi. Sedangkan potensi-potensi yang berangkat dari kekayaan imajinasi, tidak layak dikembangkan, bahkan harus dibuang, disudahi dan diludahi.
Agaknya hari ini, dunia terlalu sibuk menghakimi, berlagak menjadi tuhan dalam dunianya sendiri. Semakin hari, dunia terasa berat untuk saling memberi dukungan dan motivasi, terlalu tabu untuk memberi ruang dan saling menyemangati.
Sudah saatnya, lembaga pendidikan, baik ditingkat SLTP, SLTA, serta Perguruan Tinggi, lebih membuka mata akan potensi-potensi yang berangkat dari kekayaan imajinasi. Terlalu banyak pribadi-pribadi manusia di sebuah lembaga pendidikan, terpaksa membunuh potensi dan bakatnya sendiri. Seperti para pribadi-pribadi yang gemar membuat karya seperti syair, lagu, puisi, atau hal-hal lain yang berangkat dari kekayaan imajinasi. Mungkin sudah saatnya, ceceran-ceceran potensi dari pribadi-pribadi tersebut diberikan ruang agak imajinasi mereka terselamatkan. Bahwa kemudian tuan-tuan dan puan-puan di lembaga pendidikan menganggap bahwa hal-hal tersebut tidak terlalu berpengaruh dan tidak ada implikasinya dengan keberjalanan pembelajaran, paling tidak berikan mereka ruang agar imajinasi mereka bisa terselamatkan.
Nampaknya, sudah seharusnya Lembaga Pendidikan tak lagi menutup mata akan potensi seseorang. Semua orang memiliki potensinya masing-masing, dunia tak harus membanding-bandingkan mana yang mesti diberi akomodasi dan mana yang harusnya di gergaji. Seperti bulan dan matahari yang tidak bisa dibandingkan. Keduanya sama-sama menyala, keduanya sama-sama bersinar di posisinya, keduanya sama-sama bercahaya bagi para penikmatnya.
Bukan lagi waktunya, Lembaga Pendidikan menilai potensi pribadi-pribadi manusia, berdirilah di sampingnya dan bantu pribadi tersebut memperindah masa depannya, menyalakan cahaya gua garba ilmunya. Sebab Lembaga Pendidikan tak boleh lagi merasa bahwa dirinya sebagai perumus masa depan, mungkin hari ini, justru pribadi-pribadi tersebut yang dapat memperbesar nama sekolah atau kampusnya.
Jangan melulu terkerangkeng dengan kata, 'keberuntungan'. Sebab keberuntungan adalah ketika potensi serta kemampuan seseorang bertemu dengan peluang. Maka mari ciptakan dan bentuk potensi pribadi-pribadi tersebut, berikan ruang agar mereka mengasah kemampuannya, apapun itu. Sehingga peluang-peluang yang ada, akan menjelma menjadi keberuntungan-keberuntungan yang nyata.
Bukakah kita semua sepakat bahwa pendidikan bukan bertujuan untuk mencetak robot-robot pekerja, melainkan untuk memanusiakan manusia ? Karena manusia terlahir dengan potensi-potensi dan bakat-bakat yang berbeda, maka jangan kikis pemberian dari Yang Maha Ada kepada manusia.