opini

Indikator Ketercapaian Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka

Senin, 20 November 2023 | 07:21 WIB


Oleh : Wisnu Mubarok

Kurikulum (curriculum) mulanya dipakai pada dunia olahraga berasal dari curir (pelari) dan curere (tempat berpacu). Ketika itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang perlu dilalui oleh seorang pelari dari start sampai finish untuk mendapatkan sebuah medali/penghargaan. Lalu kemudian pengertian itu ditanamkan terhadap dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran untuk mendapatkan penghargaan dalam bentuk ijazah. Pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, pada pasal 1 ayat 19 disebutkan pengertian kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Pada Kurikulum Merdeka, kurikulum dapat diartikan sebagai pembelajaran intrakurikuler yang beragam yang mana konten akan lebih optimal supaya peserta didik mempunyai cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Disini guru memiliki peran serta keleluasaan untuk memilih berbagai pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. Agar peserta didik dapat mencapai tujuan dan capaian pembelajaran, ada beberapa prinsip pembelajaran yang harus diterapkan terhadap kurikulum pemulihan pembelajaran. Diantaranya sebagai berikut.

1. Mempertimbangkan tahapan dan capaian peserta didik. Pada saat ini perkembangan serta pencapaian peserta didik dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan belajar siswa dan mencerminkan karakteristik serta perkembangan peserta didik yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan.
2. Membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat maka perlu rancangan pola pikir peserta didik, pendidik perlu melakukan sebuah kegiatan-kegiatan yang bisa membangun para peserta didik untuk terus belajar.
3. Mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik. Ketercapaian pembelajaran menjadi salah satu faktor perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik, Maka dari itu, penting adanya pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi dan karakter dari peserta didik.
4. Menerapkan pembelajaran yang relevan. Jadi pembelajaran yang relevan di sini yaitu suatu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, budaya peserta didik, dan melibatkan orang tua serta komunitas sebagai mitra. Jadi, peserta didik akan menangkap materi yang diberikan karena merasa berkaitan dengan pembelajaran yang diberikan.
5. Berorientasi terhadap masa depan yang berkelanjutan. Yang terakhir adalah berorientasi terhadap masa depan berkelanjutan. Hal yang ingin dipokuskan di sini adalah menanamkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan dan masa depan.

Hasil Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan ada 70% siswa usia 15 tahun ada di bawah tingkat kompetensi minimum terhadap memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika dasar. Maka kurikulum merdeka belajar dikembangkan sebagai respons terhadap masalah tersebut. Skor PISA ini tidak mengalami peningkatan yang signifikan dalam kurun 10-15 tahun terakhir. Selain itu hal ini diperparah oleh adanya pandemi COVID-19 yang menyebabkan kesenjangan besar kualitas pembelajaran antar wilayah dan kelompok sosial-ekonomi.

Untuk mengatasi situasi ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menerapkan kurikulum darurat. Kurikulum ini diterapkan untuk menangani dampak kekurangan pembelajaran (learning loss) pada masa pandemi. Alhasil, dari 31,5% sekolah yang memakai Kurikulum Darurat, ditemukan bahwa penggunaan kurikulum ini dapat mengurangi dampak pandemi sebesar 73% dalam bidang literasi dan 86% dalam bidang numerasi. Keberhasilan Kurikulum Darurat ini menandakan bahwa perubahan kurikulum yang lebih komprehensif sangat penting. Oleh sebab itu, Kurikulum Merdeka Belajar dirancang sebagai kurikulum baru yang lebih komprehensif dibandingkan kurikulum sebelumnya.

sebagai projek penguatan profil pelajar pancasila. Kurikulum merdeka memberikan fasilitas pengembangan karakter berupa aktivitas intrakurikuer, estrakurikuler, dan kokurikuler yang terintegrasi dalam pembelajaran. Implementasi kurikulum merdeka memberi ruang terhadap pemanfaatan teknologi salah satunya dengan platform merdeka mengajar yang memberikan berbagai fasilitas bagi guru seperti pelatihan, praktik, dan perangkat ajar yang tersedia. Dalam hal ini, penerapan kurikulum merdeka diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter yang memiliki learning skills, literacy skills, dan life skilss sebagai bentuk keterampilan abad ke-21 yang bertumpu pada empat pilar pendidikan.

Pengimplementasian Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5 yang bertujuan untuk membentuk karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. sebagaimana diatur oleh Kemendikbudristek No.56/M/2022. P5 didesain untuk memperkuat upaya pencapaian kompetensi serta melahirkan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang dirancang berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan. Adapun upaya untuk mewujudkan Pelajar Pancasila yang mampu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB