Oleh : Jacob Ereste
Semasa kecil dulu di kampung, anak-anak sebaya saya biasanya cuma bisa menikmati hiburan menonton film di bioskop. Tapi agak lama bagi saya, tak suka film buatan anak negeri sendiri yang selalu melankolis dan cengeng.
Saya lebih suka film sejarah atau aksi ala mafia Al Capone atau minimal film Hollywood.
Baca Juga: Tidak Cukup Menjadi Orang Yang Baik
Sebab nonton bioskop itu bukan saja sebagai hiburan, tapi juga gengsi -- kalau ada tayangan film yang bagus kok nggak ikut menonton.
Akibatnya, kalau sampai absen, besok akan menjadi tema diskusi saat nongkrong bersama kawan-kawan. Jadi kalau nggak sempat nonton, diri ini rasanya seperti kambing congek. Apalagi klasifikasi film yang hendak ditonton itu tidak ada batasan umur.
Baca Juga: Peran dan Tujuan KADIN Dalam Membangkitkan UMKM Daerah
Pada suatu ketika, hasrat hendak ikut masuk ke bioskop sudah sangat menggebu-gebu. Karcis pun sudah di pesan karena ketika itu pun filmnya untuk semua umur -- jadi bisa dipastikan akan penuh sesak menjadi kesempatan menonton bagi anak-anak seusia saya.
Baca Juga: Keikhlasan dan Kejujuran Tidak Berjarak
Tapi entah bagaimana ceritanya setelah karcis diperoleh jadi tak bisa ikut menonton. Pendek cerita, kecewa beratlah awak ini, mungkin lebih dari kecewanya seorang Calon Wapres untuk bertarung dalam Pemilu.
Meski dalam pertarungan itu sendiri tak tentu bisa menang. Namun kekecewaan seperti membuat rasa malu tak sanggup ditanggung. Walau tak sempat terlintas untuk bunuh diri, seperti anak jaman milenial sekarang ini, ketika ditinggal kekasih.***