opini

Sidang Majelis Umum PBB, Krisis Dunia dan Pilpres

Minggu, 24 September 2023 | 14:03 WIB
Logo PBB (Reuters)

 

Oleh: Imam Shamsi Ali

Selasa 19 September, secara resmi dimulai ritual tahunan para pemimpin dunia di kota New York. Sebuah perhelatan terbesar PBB dengan menghadirkan semua kepala negara / kepala pemerintahan atau yang mewakili.

Indonesia unik dalam hal ini. Sejak Presiden Jokowi menjadi Presiden RI hingga tahun terakhirnya sebagai Presiden RI beliau tidak pernah hadir. Ketika pak JK Wapres beliaulah yang selalu mewakili. Selebihnya hanya diwakili oleh Menlu.

Pertemuan pemimpin dunia tahun ini menjadi sangat krusial, dan akan banyak mewarnai dan memberikan arah memasuki tahun-tahun mendatang yang konon kabarnya cukup suram.

Tema-tema besar SMU PBB kali ini masih seputar keamanan dunia, khususnya dalam konteks perang Rusia-Ukraina (NATO). Tema khusus kali ini juga berkaitan dengan lingkungan hidup (climate change) dan energi terbarukan.

Namun secara umum sebegitu banyak dan rumit permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dunia saat ini. Perang Rusia-Ukraina berdampak pada tatanan dunia global yang nampaknya akan membawa kembali ketegangan bahkan perang dingin seperti masa lalu.

Rusia di bawah kepemimpinan Putin sangat agresif dan lihai dalam membangun koalisi global. Dengan China, India, Iran, Saudi Arabia, Afrika Selatan, dan terakhir dengan Korea Utara nampaknya Rusia akan semakin mendapatkan kekuatan global menghadapi dominasi Amerika dan sekutunya.

Berbagai krisis keamanan dan gesekan global power ini berdampak berat bagi perekonimian dunia, khususnya di bidang keamanan pangan (food security).

Krisis bahkan resesi ekonomi mengancam semua negara tanpa kecuali. Berakibat kepada ambisi global ekonomi yang menampakkan kerakusan yang sangat (highly greedy).

China dan Amerika masih merupakan dua kekuatan ekonomi dunia yang mendominasi. Masing-masing punya cara dan ambisi untuk menguatkan dan menancapkan kukunya ke berbagai belahan dunia.

Perseturuan ekonomi Amerika dan China menjadi celah bagi sebagian untuk membangun basis. Salah satunya dengan terwujudnya BRICS yang nampaknya akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Indonesia sendiri hingga saat ini belum menentukan arah dalam pertarungan ini. Karena posisi dasar Indonesia memang selalu “tidak berpihak” alias tidak kemana-mana tapi ada di mana-mana. Tergantung kepentingan tentunya.

Selain isu-isu besar di atas, isu lingkungan hidup juga menjadi isu utama kali ini. Kerusakan lingkungan yang ditandai dengan climate change dan pemanasan menjadi kekhawatiran global yang nyata.

Tentu Amerika dan negara-negara Barat berada di garda terdepan dalam upaya menyelamatkan bumi. Tapi seringkali kebijakan-kebaikan Amerika dan Barat berwajah ganda (double standard).

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB