Urang Tatar Sunda Naik Haji, Bratalegawa Alias Haji Purwa, Gelar Haji bukan Pemberian Pemerintah Belanda

photo author
Abdul Qodir Majid, Journal Nusantara
- Minggu, 23 Juli 2023 | 06:24 WIB
Salah satu karya tulis Nunu A Hamijaya  (Abdul Qodir Majid)
Salah satu karya tulis Nunu A Hamijaya (Abdul Qodir Majid)

Urang Tatar Sunda Naik Haji,  Bratalegawa  Alias Haji  PurwaGelar Haji bukan Pemberian Pemerintah Belanda (Bagian 2)

oleh : Nunu Ahmad Hamijaya

 

Dalam naskah Carita Parahiyang  dikisahkan  bahwa pemeluk agama Islam yang pertama kali di Tatar  Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Pangandipara Marta Jayadewatabrata atau Sang Bunisora penguasa Kerajaan Galuh (1357-1371). Ia menjadi raja menggantikan abangnya, Prabu Maharaja (1351-1357) yang gugur dalam Perang Bubat yaitu  perperangan antara  Sunda  dengan Majapahit. Bratalegawa memilih hidupnya sebagai seorang  saudagar, ia sering melakukan pelayaran ke Sumatera, China, India, Srilanka, Iran sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana Binti Mumamad. Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk Islam sebagai orang yang pertama menunaikan haji di kerajaan Galuh. Ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa (Atja. 1981: 47).

Baca Juga: Urang Tatar Sunda Naik Haji, Bratalegawa Alias Haji Purwa, Gelar Haji bukan Pemberian Pemerintah Belanda

Setelah menunaikan ibadah haji, Haji Purwa  beserta istrinya kembali ke  Galuh di Ciamis  (1337 M). Di Galuh ia menemui adiknya, Ratu Banawti, untuk bersilaturrahmi sekaligus melaksanakan tugas mulya yaitu mengajaknya masuk Islam.Tetapi  upaya itu tidak berhasil. Dari Galuh, Haji Purwa pergi ke Cirebon Girang  untuk mengajak  kakaknya, Giri  Dewata atau Ki Gedeng Kasmaya yang menjadi penguasa Kerajaan Cirebon Girang, untuk memeluk Islam namun kakaknya pun menolak. Dari informasi di atas dapat dijadikan alasan bahwa jama’ah haji mempunyai peran yang berarti dalam penyampaian dan penyebaran Islam di Nusantara.

Walang Sungsang – Rarasantang

Satu abad  kemudian, menurut  Carita Purwaka Caruban Nagari dan naskah-naskah tradisi Cirebon seperti Wawacan Sunan Gunung  Jati, wawacan Walang Sungsang, dan Babad Cirebon ada tokoh lainnya yang pergi  Haji.

Dalam naskah-naskah tersebut disebutkan adanya tokoh lainnya yang pernah menunaikan ibadah haji yaitu Raden Walang Sungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi, Raja Sunda  dan pernah berguru agama Islam kepada Syeikh Datuk Kahpi selama tiga tahun di Gunung Amparan Jati  Cirebon.

Baca Juga: Nunu A. Hamijaya Penulis Sejarah Asal Cianjur, Bukunya Diminati Anggota Kedubes Amerika dan Pakistan

Atas saran  sang guru, Walang Sungsang dan adiknya Rarasantang berangkat ke Mekah-diduga (1446-1447)  atau satu abad setelah  Bratalegawa untuk menunaikan ibadah haji dan menambah ilmu agama Islam. Dalam perjalanan ibadah haji, Rarasantang  dinikahi oleh  Syarif Abdullah, Sultan Mesir dari Dinasti Fatimiyah dan berputra dua orang yaitu Syarif Hidayatullah (1448) dan Syarif Arifin (1450). Sebagai  seorang haji, Walang Sungsang kemudian berganti nama menjadi Haji Abdulah Iman, sedangkan adiknya Rarasantang juga berganti nama menjadi Hajjah Syarifah Mudaim.

Sementara itu dari kesultanan Banten, jama’ah haji yang dikirim pertama kali adalah  utusan Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu Sultan Ageng Tirtyasa berkeinginan memajukan negerinya baik dalam bidang  politik  diplomasi maupun di bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain. (Tjandra Sasmita, 1995: 11) Pada  tahun 1671 sebelum mengirimkan utusan ke Inggris, Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan putranya, Sultan Abdul Kahar, ke Mekah untuk menemui Sultan Mekah sambil menunaikan ibadah haji, lalu melanjutkan perjalanan ke Turki. Karena kunjungannya ke Mekah dan menunaikan  ibadah haji, Abdul Kahar kemudian dikenal dengan sebutan SULTAN HAJI. (Henri Chambert-Loir dalam Naik Haji di Masa Silam (2013: 33-34) Sebelumnya, beberapa bangsawan Banten sudah berangkat haji juga pada tahun 1638 dan 1651. Sepulang dari Mekah, mereka menyematkan gelar “haji” di depan namanya, yaitu Haji Jayasantana dan Haji Wangsaraja, lalu Haji Fatah.***

Nunu Ahmad Hamijaya adalah penulis buku Titiknol Kehendak Berpemerintahan Sendiri (Zelfbestuur 1916),2018, Toedjoeh Kata,2019, Tjisajong dan Bangka : Revolusi Islam Bernegara di Indonesia (1916-1962), terbit 2021 dan Negeri 3 Proklamasi, 2022 (Penerbit Pusbangter).

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Abdul Qodir Majid

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB
X