(Antara Salman Al-Farisi dan Abu Darda’)
Di antara langkah yang indah
dua jiwa bertemu dalam cahaya senja
Salman menatap jauh ke lazuardi
seakan membaca rahasia isi hati
tentang hakikat manusia
dan asal mula kemuliaannya
“Wahai Abu Darda’,” ucapnya,
“apakah tanah mampu meninggikan kedudukan,
atau hanya menjadi saksi bisu perjalanan?”
Angin berhembus pelan membawa tanya,
yang sering terabaikan oleh gemerlap dunia
Abu Darda’ tersenyum dalam diam,
matanya teduh merenung dalam-dalam
“Tanah hanyalah tempat pijakan
bukan tempat bertumpu kemuliaan,
karena semua manusia,
berasal dari debu yang sama.”
Salman menghela napas panjang,
teringat jejak pencarian yang bukan kepalang
dari negeri yang jauh hingga tanah Madinah,
yang mengubah dirinya ternyata bukanlah tanah.
“Lalu apa yang mengangkat derajat manusia?”
tanya Salman jatuh seperti doa.
Abu Darda’ menjawab perlahan,
“hati yang berserah, penuh kejujuran
serta amal baik yang dilakukan karena Tuhan”
Bukan di mana engkau berdiri,
melainkan bagaimana engkau berdiri,
bukan tanah yang engkau pijak,
melainkan nilai dan sikap bijak
itulah yang menimbang dirimu
di hadapan Tuhanmu
Betapa banyak manusia yang tersesat,
mengira tanah suci adalah jaminan,
hati mereka lalai dan tetap tersesat
meski berada di titik kemuliaan
Betapa indah mereka yang tersembunyi,
jauh dari gemerlap riya dan puji
sehingga bumi mana pun menjadi suci baginya,
karena ia membawa kesucian dalam dirinya.
Maka pagi pun mengajarkan dengan indah
bahwa kemuliaan bukanlah dari tanah,
melainkan hasil dari pengabdian
yang tumbuh dalam amal dan keikhlasan,
kemudian berbuah dalam diam
bernilai abadi tak pernah padam
Abu Darda’ berpetuah:
“Laysa alladzi yarfa‘uka al-arḍu allati tamsyi ‘alayha,
walakinna alladzi yarfa‘uka ‘amaluka alladzi taḥmiluhu fawqaha.”
(Bukan tanah yang engkau pijak yang mengangkat derajatmu,
melainkan amal yang engkau bawa di atasnya)
Malang, 22 Mei 2026
Salam sehat,
M. Sinal