Oleh: Teten Romly Qomaruddien
Laksana mata rantai yang tidak terputus, para ulama senantiasa menggambarkan keutamaan bulan-bulan yang menjadi pengiring bulan mulia Ramadhan. Para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, serta para salafunas shaalihiin senantiasa menumpahkan kegirangan mereka dalam menyambut tamu agung yang ditunggu-tunggu ini.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam kitabnya Lathaaiful Ma'aarif, menukilkan ungkapan emas Abu Bakar Waraq al-Balkhi yang mengumpamakan kemuliaan tiga bulan berturut-turut bagaikan proses memelihara pohon. Beliau menyebutkan bahwa Rajab merupakan bulan untuk menanam pohon, Sya'ban adalah bulan untuk menyiram, sedangkan Ramadhan adalah waktu untuk memanen hasilnya.
Lebih jauh lagi, beliau menambahkan sebuah kiasan yang indah: bulan Rajab diibaratkan sebagai angin, bulan Sya'ban ibarat awan, sedangkan bulan Ramadhan ibarat tetesan air hujan yang membawa rahmat. Narasi ini sungguh selaras jika dihubungkan dengan motivasi dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai keutamaan pokok dalam mengamalkan ibadah Ramadhan, sekaligus sebagai peringatan untuk menjaga kewaspadaan agar tidak melakukan pelanggaran di dalamnya.
Persiapan yang matang di bulan-bulan sebelumnya adalah kunci agar saat masa panen raya itu tiba, kita benar-benar siap memetik buah keberkahan dengan kualitas terbaik.