Berkibarlah, benderaku!
Di langit yang kadang keruh
Bukan karena badai,
tapi karena mereka yang alai
Selalu berteriak lantang
Merasa seperti pejuang
Menghitung cela, menebar caci
Seakan tanah ini hasil keringatnya sendiri
Tak jelas apa yang mereka mau
Kadang bicara perubahan
Tapi yang diciptakan kegaduhan
Tangannya tak pernah membangun
Tapi rajin menebar bisa dan racun
Kebaikan hatinya entah di mana
Hanya kata-kata pedas yang tersisa
Mereka menyebut negeri ini Konoha
Seolah panggung sandiwara belaka
Padahal hidupnya sendiri
Tak ada catatan yang berarti
Tak ada karya, yang bisa dibanggakan
Selain komentar bernuansa hinaan
Berkibarlah, benderaku!
Abaikan suara yang hanya pandai membelah,
namun tak pernah menyatukan
Biarlah mereka tenggelam dalam gema sendiri
Sementara engkau tetap berkibar di tiang tertinggi
Menatap masa depan yang hanya bisa lahir,
dari tangan yang mau bekerja dan berkarya
Bukan dari sejumlah bibir,
yang tak pernah berhenti mencela
Malang, 12 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal