Journalnusantara.com, Kota Bandung - Bagi Tika Tazkya Nurdyawati, yang akrab dipanggil Tika, aktifis pendidikan asal dari Bandung founder platform community network anak muda bernama "Muda Empati" di bidang sosial menekankan urgensi dan manfaat menulis.
"Saat ini status saya fresh graduate, sedang berupaya membangun lembaga bernama Yayasan Tazkya di bidang keagamaan," kata Tika yang memiliki hobi menulis dan melukis kepada wartawan, Selasa (27/06/2023).
Pemilik akun media sosial Instagram @tikatazkya bercerita bahwa sejak SMA, dirinya terus belajar bahwa menulis adalah cara untuk mengikat dan menguatkan ilmu.
"Dengan menulis sebenarnya re-learning. Kita tidak membiarkan apa yang dipelajari dari bacaan, paparan, dan ilmu-ilmu yang disampaikan oleh siapapun untuk pergi tanpa kemashlahatan," ujarnya.
Baca Juga: Mengenal Khoirunnisa, Seorang Putri Hijab Indonesia, TV Presenter, hingga Trainer
Ia mengatakan, awal mula aktif menulis di laman instagram. Hal ini dimulai di masa pandemi 2020 yang merupakan masa sulit untuk beradaptasi dan shifting ke digital interaction. Instagram merupakan media sosial yang cenderung diperuntukkan untuk mengunggah foto dan video (baik personal maupun komersial).
"Pada saat itu saya melawan rasa gengsi, rasa malu, rasa takut, untuk menumpahkan pemikiran dan perasaan dalam unggahan kolase," terang Tika menambahkan.
Setelah konsisten, ternyata tulisan Tika diapresiasi oleh orang-orang. Mereka menyebarluaskan tulisan-tulisannya yang mungkin relate dengan pikiran dan perasaan mereka juga.
"Ini merupakan tahun ke-3 saya secara konsisten menulis di laman instagram dan alhamdulillah terus disemangati dengan orang-orang yang merasa terbantu melalui tulisannya melewati masa-masa sulit dan demotivasinya," tutur Dia.
Menurutnya, di era saat ini segala sesuatunya disuguhkan dengan instan. Kegiatan menulis kurang lagi diminati. Menulis dengan maksimal membutuhkan banyak komitmen.
"Setidaknya harus mengorbankan waktu, bekal, dan energi. Pasar atau audiens para penulis hanyalah orang-orang yang mau baca, dalam arti mau belajar dan memperoleh insights baru," terangnya.
Ia menegaskan, tidak diragukan lagi kultur serba instan ini membuat orang malas menulis. Membacapun orang sudah jarang. Society kita cenderung lebih prefer untuk menonton video pendek berdurasi 30 detik x 100 video yang mereka saksikan. 1 jam mereka senggangkan untuk menonton hal-hal yang kadang no konteks.
"Padahal sejam tersebut bisa kita alokasikan untuk menulis sebagai metode mengasah otak kita, which is the most important part of us," imbuhnya menyayangkan.
Artikel Terkait
Jelang Armuzna, GP Ansor Cianjur Kembali Doakan Jamaah Haji Lancar dan Selamat
Dana Desa Bertambah dan Masa Jabatan Kepala Desa Berubah, Siapakah yang Diuntungkan?
Ahmad Nur Rizal Berharap Kunjungan Kemenkop Bangkitkan Inkubator Bisnis Universitas Suryakancana
Daftar Hadir Pemilih Barometer Pemilu Jurdil dalam Pesta Demokrasi
AHY Antar Anies Baswedan dan Keluarga Tunaikan Ibadah Haji
Puteri Indonesia 2023, Farhana Nariswari Jadi Pembicara Beauty Class Bersama Mustika Ratu di Sekolah Polwan
Menko Polhukam Dorong Penyelesaian Berbagai Kasus Pelanggaran HAM Masa Lalu
Keutamaan Hari Arafah yang Perlu Diketahui
Haji dan Kemanusiaan Universal
Fikih Kurban: Hukum, Jenis Hewan, dan Ketentuan Ibadah Kurban Lainnya