Oleh: Imam Shamsi Ali
Sekitar beberapa hari lagi umat Islam di seluruh penjuru dunia akan memasuki bulan Ramadan. Bulan yang memang ditunggu-tunggu dengan hati riang dan gembira. Karena bulan itu dijanjikan penuh dengan kebaikan, keberkahan, cinta dan kasih sayang Allah SWT. Bulan di mana Allah menjanjikan pengampunan bagi hamba-hambaNya yang kembali sadar dengan kebenaran, dibukakan pintu-pintu syurga dan pintu-pintu neraka ditutup. Bulan di dalamnya diturunkan Al-Qur’an di sebuah malam yang lebih baik dari seribu malam.
Intinya bulan Ramadan adalah bulan yang dirindukan karena berbagai kebaikan dan bulan di mana jalan-jalan kebaikan itu terbuka lebar. Di bulan Ramadan kemungkinan berbuat dosa dipersempit dengan diikatnya syetan-syetan. Motivasi dan dorongan untuk melakukan ibadah-ibadah, baik yang bersifat vertikal (mahdhah) maupun horizontal (mu’alamat) tumbuh besar.
Persiapan memasuki bulan berkah
Namun segala sesuatu dalam Islam itu tidak terjadi dengan sendirinya. Diharuskan adanya keterlibatan langsung atau ikhtiar manusia agar janji-janji itu diwujudkan oleh Dia Yang Maha memenuhi janji (Allah SWT). Bahkan peristiwa mu’jizat para nabi sekalipun tidak terjadi tanpa ikhtiar nabi-nabi itu. Musa diperintahkan memukul lautan misalnya sebagai bagian dari ikhtiar itu. Allah boleh saja membelah laut itu tanpa Musa memikirkan tongkatnya. Tapi Allah memerintahkannyan memukul lautan dengan tongkat sebagai ikhtiar yang menjadi keharusan.
Demikian pula berbagai janji yang Allah janjikan di bulan Ramadan tidak mungkin diberikan tanpa ikhtiar maksimal dari kita yang mengharapkannya. Dari berbagai keberkahan, kebaikan, kasih sayang, pengampunan, hingga ridho dan syurgaNya hanya akan diberikan jika dibarengi dengan ikhtiar yang benar dan sungguh-sungguh dari kita.
Salah satu bentuk kesungguhan Ikhtiar kita adalah mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadan itu. Persiapan itu akan banyak menentukan bagaimana kita akan membawa diri selama Ramadan. Persiapan yang matang akan menjadikan kita matang dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Persiapan seadanya juga akan menjadikan kita seadanya dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Semua bermula dari mindset
Di antara persiapan-persiapan yang harus dilakukan dalam menyambut bulan Ramadan ini adalah perlunya membangun “mindset” atau cara pandang yang benar tentang Islam secara umum dan ibadah secara khusus. Cara pandang yang terbatas bahkan salah mengenai Islam dan ibadah menjadikan ibadah yang kita lakukan terbatas bahkan bisa salah.
Sebagian besar umat Islam masih memahami jika Islam itu adalah kumpulan acuan praktek-praktek ritual yang ketat. Maka Sholat, puasa, Zakat, haji dan Umrah, dzikir, tahmid dan tasbih, semua itu adalah Islam. Beraktifitas di Masjid-Masjid itu ibadah. Namun ketika Masjid telah ditinggalkan seolah Islamnya juga ditinggalkan di Masjid-Masjid. Pada waktu-waktu tertentu, Ramadan misalnya mereka berislam. Pada tempat-tempat tertentu, Mekah misalnya, mereka berislam. Namun di luar Ramadan atau di luar Mekah Islam tidak lagi menjadi pegangan.
Mindset berislam yang seperti ini menjadikan mereka memiliki cara pandang dengan ibadah yang juga terbatas dan tidak efektif. Ibadah dipahami sebagai sekedar amalan-amalan ritual yang sempit dan terbatas. Maka Ramadan bagi sebagian tidak lebih dari sekedar bulan berbagai amalan ritual semata.
Maka satu hal yang harus ditanam kuat dalam sanubari setiap Muslim bahwa Islam itu adalah agama yang mencakup seluruh titik pergerakan nadi kehidupan. Dan ibadah dalam Islam itu mencakup seluruh aspek pergerakan hidup, baik yang bersifat vertical maupun horizontal. islam tidak mengenal pemilah-pemilahan kehidupan kepada ruang-ruang yang berbeda. Ada ruang untuk Tuhan dan ada ruang untuk diri sendiri.
Selain itu antara satu bentuk ibadah dan ibadah lainnya itu (mahdhah dan mu’amalat) saling terkait. Ibadah Sholat itu memiliki dampak pada aspek kehidupan sosial pelakunya. Karena memang Sholat itu mencegah kemungkaran dan kekejian (fahsyaa wal munkar). Demikian juga puasa yang tidak menghentikan pelakunya dari perkataan dan perbuatan buruk maka tiada keperluan bagi Allah untuk dia meninggalkan makan dan minumnya (hadits).
Hati yang bersih menentukan
Artikel Terkait
Pendayagunaan Penyuluh Pertanian
Mutiara Pagi: Melawan Badai (Bagian 1776)
#KaburAjaDulu : Fenomena Brain Drain sebagai Tantangan Pembangunan Nasional
BEM PTNU Wilayah Sumatera Sukses Gelar Silaturahmi Wilayah di Jambi
Mutiara Pagi: Nakhoda (Bagian 1777)
Cianjur Era Baru: CEO CDN Ucapkan Selamat kepada Bupati Wahyu dan Wakil Bupati Ramzi
BEM PTNU DIY Soroti Efisiensi Anggaran dalam Inpres 1/2025: Kritikan Terhadap Sektor Pendidikan dan Kesehatan
Bahtsul Masail LBMNU Sukabumi: Menjaga Lingkungan Hukumnya Wajib, 'Pemanfaatan Yes, Eksploitasi No'
Jejak Sejarah Cepu dengan Rel Kereta Api
Aturan Kementerian Hukum dan Perpanjangan Paspor Diaspora RI