Saat rezim mulai goyah, Uni Soviet datang dan menginvasi Afghanistan pada 1979. Pada pergolakan yang terjadi antara kelompok mujahidin melawan tentara Afghanistan yang didukung Uni Soviet, tercatat sekitar 2,8 juta warganya yang melarikan diri.
Pada 1989, Uni Soviet mulai menarik diri. Dalam hal ini, kelompok Mujahidin melanjutkan perlawan untuk menggulingkan rezim komunis pimpinan Najibullah yang ditunjuk Soviet.
Kekuasan komunis akhirnya lengser. Kelompok mujahidin kemudian membentuk negara yang berlandaskan Islami dengan Burhanuddin Rabbani sebagai Presiden.
Akan tetapi, saat itu telah terjadi pergolakan internal terkait perebutan pemimpin yang nantinya akan memunculkan konflik lain selain dari komunis. Saat ini, Afghanistan dikenal sebagai negara mayoritas muslim.
Namun, negara tersebut beberapa waktu yang lalu dikuasai oleh kelompok Taliban yang sampai saat ini masih menjalankan pemerintahan.
Baca Juga: Penyanyi Religi Veve Zulfikar Ungkap Bangga Berseragam IPPNU
2. Yaman
Yaman merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Asia Barat. Dalam sejarahnya, negara ini juga lekat kaitannya dengan pengaruh paham komunis.
Mengutip Britannica, singkatnya mereka pernah terbagi menjadi Yaman Utara dan Yaman Selatan. Dalam hal ini, Yaman Utara terbentuk lebih dahulu sehingga mendapat banyak dukungan dari dunia Arab.
Namun, Yaman Selatan justru kesulitan mendapat bantuan, baik dari negara Arab maupun dunia barat. Hal ini membuatnya mengalihkan perhatian kepada Uni Soviet.
Pada awal 1970-an, Yaman Selatan menjadi negara yang diakui Marxis dan mengganti namanya menjadi Republik Demokratik Rakyat Yaman.
Akan tetapi hal tersebut tak berlangsung lama. Saat blok komunis menyerah, rezim Yaman Selatan menjadi terisolasi dan perlahan runtuh.
Satu-satunya pilihan masuk akal adalah melakukan negosiasi dengan Yaman Utara yang lebih dominan.
Baca Juga: Menggiurkan! Segini Gaji Panwaslu Desa dan Panwaslu Kecamatan di Pemilu 2024
3. Tajikistan