Membela atau Menyesatkan?
Iran tidak sempurna. Tapi ia memihak. Ia menolak netralitas palsu dan memilih jalan penuh sanksi demi membela Palestina. Sementara sebagian negeri Sunni sibuk mengadakan konser, membuka jalur dagang, dan menyambut delegasi Israel.
Ketika Gaza dihujani bom, rudal dari Hizbullah dan Houthi adalah satu-satunya yang merespons didukung Iran. Ketika dunia Arab diam, Iran hadir. Bahkan serangan besar-besaran ke Israel pada 2024, yang melibatkan 300 lebih drone dan rudal, menjadi peringatan paling serius sejak 1948.
Apakah itu bukan pembelaan terhadap Palestina? Felix tak melihat ini. Atau memilih untuk tidak melihat. Mengakuinya berarti harus mengakui bahwa Iran berdiri di pihak yang benar dan itu terlalu berat bagi agenda sektarian.
Tragedi Intelektual dan Aib Sejarah
Felix menyebut Iran bukan bagian dari umat. Tapi bagaimana mungkin sebuah negara yang mengibarkan bendera Palestina di jalan-jalan, yang konstitusinya menolak eksistensi Israel, yang mendirikan Hari Al-Quds sebagai hari nasional, disebut bukan saudara?
Bagi Felix, tampaknya, keislaman ditentukan oleh mazhab, bukan oleh keberpihakan terhadap yang tertindas. Dan di sinilah letak kelicikan logika itu: lebih mudah menyebut sesat, daripada hadir memberi pertolongan.
Di medan perlawanan Gaza, para pejuang tak bertanya: “Kamu Sunni atau Syiah?” Mereka hanya bertanya: “Siapa yang datang? Siapa yang membantu?”
Mereka tahu jawabannya. Dan jawabannya bukan Felix. Bukan Riyadh. Tapi Teheran.
Penutup: Antara Mazhab dan Keberanian
Felix mungkin akan terus berbicara. Tapi sejarah hanya mencatat mereka yang bertindak. Qassem Soleimani bukan sekadar jenderal Iran. Ia disebut dalam doa anak-anak Gaza. Sebab terowongan mereka tidak roboh karena khutbah tapi karena rekayasa teknik militer Iran.
Felix boleh menyebutnya sesat. Tapi bagi Palestina, ia hadir. Ia nyata.
Ketika dunia sibuk memilih sisi yang aman, Iran memilih sisi yang benar. Di situlah keberanian menjadi nilai. Dan Felix, sayangnya, memilih untuk berdiri di sisi yang nyaring, tapi kosong.
Karena pada akhirnya, kebenaran bukan milik yang paling fasih. Tapi milik yang paling konsisten. Dan suara Iran, untuk Palestina, masih terdengar meski dari bawah tanah, dari langit malam, dari jalan sunyi yang dijauhi para penceramah populer.