Setelah tadzkirah itu sebagaimana lazimnya orang Indonesia pasti ada foto-foto bersama. Belum selesai foto bersama kami didatangi polisi dan diinterogasi bahkan kamera diambil. Ada tiga orang yang dibawa ke kantor kepolisian. Salah satunya adalah saya sendiri.
Setiba di kantor polisi mereka sampaikan bahwa mengambil foto dengan kamera tidak diperbolehkan. Tapi mengambil gambar dengan hand phone tidak dilarang, Walau video dilarang. Sebuah informasi yang kami semua tidak tahu karena tidak ada pengumuman tentang itu.
Namun mendengar alasan pemanggilan kami itu, menjadikan saya tertawa dalam hati dan bertanya: “apa beda antara foto dengan kamera dan HP?”. Bukankah dengan HP sebenarnya lebih cepat tersebar karena bisa langsung diupload ke media sosial?
Sambil menggerutu dalam hati, duduk di kantor polisi bak kriminal, akhirnya saya kembali tersadarkan: “memang itulah ukuran pikiran manusia aneh”.
Ternyata setelah menunggu beberapa waktu tanpa ada pertanyaan apa-apa kecuali “wein ta’syirah” (visa anda di mana?). Kami jawab berkali-kali bahwa visa ada di paspor dan paspor di kumpulkan oleh ketua rombongan. Tapi masih terus ditanyakan berkali-kali: وين تاشيرة؟
Ketika masalah ta’syirah (visa) selesai mereka ternyata mulai menanyakan: “من المتحدث؟" Atau siapa yang ceramah tadi?
Saya kemudian tersadarkan bahwa sebenarnya yang mereka curigai adalah ceramah singkat di Masjid tadi. Apalagi ketika kita berfoto kita mengepalkan tangan. Seolah memprotes sesuatu. Seolah menantan kekuasaan yang mena-mena.
Saya kembali merenung. Sampai beginikah alergi bahkan ketakutan mereka terhadap rakyat biasa? Sungguh kekuasaan monarki, kekuasaan absolut, bukan kekuasaan sesungguhnya. Tapi sumber ketakutan kepada semua yang bisa dianggap ancaman.
Saya lebih terkejut lagi. Pagi ini baru dapat cerita baru dari Ustadz Abdul Somad. Bahwa sebenarnya pencekalan beliau tidak saja di Hongkong atau Eropa. Bahkan bukan saja di beberapa tempat di tanah air. Tapi juga mengalami kesulitan di saat masuk Saudi. “Saya itu setiap masuk imigrasi Saudi pasti tertahan minimal sejaman Ustadz”, kata beliau.
Saya kembali merenung… kok bisa-bisanya ya? Seorang guru, seorang Ustadz, yang menurut saya tidak ada hal yang bisa mencurigakan. Tapi masih saja ditahan di imigrasi Saudi, negara kelahiran baginda Rasul karena kecurigaan dan kekhawatiran akan keamananan? Aneh bin ajaib, tapi nyata!
Pengalaman-pengalaman di atas menjadikan saya teringat kampung halaman saat ini, Amerika. Dengan segala syetannya, ternyata dalam hal kebebasan berekspresi Amerika jauh lebih hebat.
Special on this, I must say: “Thank you America!”.
OTW to Mekah, Oktober 2024.
*Putra Kajang di kota New York.