Journalnusantara.com - Mantai dan santai menjadi momen yang dinantikan banyak orang, terutama di daerah pesisir seperti Kalimantan Selatan.
Kata "mantai" berasal dari kata "pantai", yang berarti kegiatan pergi ke pantai, biasanya dilakukan menjelang Lebaran Idulfitri, terutama pada hari terakhir bulan Ramadan.
Tradisi ini bukan sekadar jalan-jalan, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat.
Masyarakat berbondong-bondong ke pantai bersama keluarga, membawa bekal makanan khas seperti ketupat, lontong, lauk pauk, serta minuman segar.
Mereka duduk bersama di tikar, bercengkerama, bermain pasir, bahkan mandi di laut.
Suasana mantai terasa sangat akrab dan penuh kebahagiaan. Anak-anak berlarian di pantai, para ibu menyiapkan makanan, dan para ayah bersantai sambil menikmati angin laut.
Kegiatan ini menjadi semacam “pemanasan” sebelum Hari Raya, sebagai cara melepas penat setelah sebulan penuh menjalani puasa.
Di tengah kesibukan menjelang Lebaran, mantai menjadi momen santai yang dinikmati banyak keluarga.
Pantai seperti Pantai Takisung, Pantai Batakan, atau Pantai Pagatan menjadi destinasi favorit yang ramai dikunjungi. Meski hanya satu hari, momen ini memberi kesan mendalam.
Selain mempererat hubungan keluarga, tradisi mantai juga menjadi ajang silaturahmi dengan teman atau tetangga yang kebetulan bertemu di pantai.
Inilah keindahan sederhana dari “mantai dan santai” sebuah perayaan kecil sebelum perayaan besar, yang penuh makna dan kebersamaan.
Tradisi ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan bisa sesederhana duduk bersama, menikmati alam, dan bersyukur atas waktu yang dimiliki.