Journalnusantara.com - Kematian adalah kepastian yang tak pernah memilih waktu atau usia. Ia datang tanpa aba-aba, menghampiri siapa saja, dari bayi dalam buaian hingga orang tua yang menua.
Sering kali kita hidup dengan anggapan bahwa usia muda adalah jaminan panjang umur. Padahal, kenyataannya tak selalu demikian.
Setiap hari, kita mendengar kabar tentang anak-anak yang tiba-tiba sakit parah, remaja yang mengalami kecelakaan, atau orang dewasa yang pergi terlalu cepat karena penyakit atau kejadian tak terduga.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa hidup adalah anugerah yang rapuh dan sangat berharga. Waktu yang kita miliki bersama orang-orang tercinta seharusnya tidak disia-siakan dengan amarah, dendam, atau kesibukan yang membuat kita lupa untuk hadir.
Sebaliknya, kematian yang tak memandang usia ini seharusnya menjadi motivasi untuk hidup lebih bermakna memaafkan lebih cepat, mencintai lebih dalam, dan bersyukur lebih sering.
Tidak ada yang salah dengan merencanakan masa depan. Namun, kita juga harus belajar menghargai saat ini. Karena sejatinya, satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki adalah sekarang.
Kematian bisa menjadi cermin yang jujur, mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita bertahan, tapi seberapa dalam kita mengisi waktu yang kita punya.
Maka dari itu, mari kita renungkan jika kematian bisa datang kapan saja, sudahkah kita hidup dengan cara yang akan membuat kita damai ketika waktunya tiba?