hiburan

Pamor Sepeninggal Prabu Siliwangi dan Sunan Gunung Jati Cirebon

Selasa, 11 Maret 2025 | 19:55 WIB
Perbandingan wajah gambar Prabu siliwangi seperti yang geredar luas selama ini dengan guratan pada akik fosil galih kelor seperti yang tampak dalam lingkaran: mirip! (Adam Bintang)

Journalnusantara.com, Cianjur - Almarhum Drs. Atja sejarawan Sunda menyatakan bahwa dalam babad Pakuan Babad Pajajaran disebutkan bahwa Hyang Prabu Siliwangi memiliki 40 an anak, dari 22 istri. Salah satu istri Siliwangi adalah Nai Subanglarang.

Dalam cerita rakyat dikisahkan bahwa Nai Subang Larang adalah putri kepala Pelabuhan laut Cirebon Ki Gedeng Tapa. Sedangkan Ki Gedeng Tapa tak lain salah satu putra Prabu Niskala Wastukancana raja Sunda yang juga kakek Siliwangi sebab Sang Ningratkencana Raja Galuh ayah Siliwangi / Jayadewata juga putra Niskala Wastukancana.

Subang larang yang muslim ketika dilamar Jayadewata, ia mengajukan syarat yakni Jayadewata harus masuk Islam, dan anak laki laki dari pernikahan ini harus diangkat sebagai Putra Mahkota Pajajaran. Semua syarat itu di penuhi Jayadewata / Sang Pamanahrasa masuk Islam dibimbing Syeh Hasanuddin / Syekh Quro guru Ki Gedeng Tapa dan Subang larang.

Dari pernikahan ini lahir Sang Walangsungsang dan Rara Santang. Sesuai janji, Walangsungsang dijadikan putra mahkota. Namun tatkala Ratu Subang larang wafat, Walangsungsang / Pangeran Cakrabuana mengundurkan diri menjadi putra mahkota Pajajaran. Ia dan adiknya memilih mendalami Islam kepada Syekh Datuk Kahfi / Syekh Nurjati pendiri pesantren Amparan Jati Cirebon.

Walangsungsang dan Rara Santang lalu menunaikan ibadah haji, takdir ilahi memisahkan mereka karena Rara Santang dipinang Syarif Abdullah Raja Mesir keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Hassan RA cucu Baginda Nabi SAW. Setelah dipinang Syarif Abdullah, Rara Santang berganti nama menjadi Syarifah Mudaim.

Sedangkan Walangsungsang sepulang ibadah haji menyandang nama Haji Somadulloh, ia pulang ke Cirebon dan merintis Kesultanan Cirebon. Ketika dinobatkan sebagai Sultan Cirebon kesatu, Hyang Prabu Siliwangi ayahnya memberi nama Sri Manggana. Dikisahkan kemudian ketika Syarif Abdullah Raja Mesir wafat, Rara Santang pulang Ke Cirebon.

Sedangkan Syarif Hidayatullah anaknya dari pernikahan dengan Raja Mesir sempat memerintah Mesir selama dua tahun, lalu menyerahkan tahtanya kepada Syarif Nurulloh adiknya. Syarif Hidayatullah memilih pulang ke Cirebon menjadi Sultan Cirebon kedua, sekaligus waliyulloh anggota Walisongo dengan gelar Sunan Gunung Jati Cirebon, Ia juga yang merintis berdirinya Kesultanan Banten.

Tahun 1521 Sri Baduga Maharaja / Prabu Siliwangi wafat, sedangkan Sunan Gunung Jati Cirebon wafat tahun 1568.

Sejak wafatnya dua tokoh utama ini, Pajajaran dan Kesultanan Cirebon pamornya kian menurun. Puncaknya tatkala Sultan Cirebon Panembahan Girilaya menjadi tahanan Sunan Amangkurat I Sultan Mataram. Panembahan Girilaya wafat dalam tahanan Mataram. Kesultanan Cirebon pecah tahun 1677 menjadi Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman hingga sekarang.

Sedangkan Pajajaran dinyatakan punah oleh Kesultanan Banten tanggal 8 Mei 1579, setelah sebelumnya terjadi perang saudara antara keturunan Siliwangi Cirebon, Banten dan Pajajaran hingga 15 kali berujung hancurnya keraton Pajajaran tahun 1569 dan hengkangnya Prabu Nilakendra Raja Pajajaran meninggalkan Pakuan Bogor ngahiyang di Pulo Nusalarang Sukabumi Pakidulan.

Catatan : Sultan Cirebon Panembahan Girilaya lah yang kemungkinan memerintahkan Rd. Jayasasana / Dalem Cikundul menjaga perbatasan wilayah Kesultanan Cirebon dengan Kesultanan Banten disekitar Cijagang Cikalong Kulon.

Tahun 1983 oleh Pemkab. Cianjur Rd. Aria Wiratanu / Rd. Jayasasana / Dalem Cikundul sebagai Bupati Cianjur kesatu (1677-1691).

Tags

Terkini

Seni Membangun Kepercayaan Diri di Atas Panggung

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:44 WIB

Makan Malam dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Rabu, 1 April 2026 | 21:13 WIB