Saat itu ditambahkan corak kepala kerbau pada bendera itu. Diilhami kisah kerbau yg cerdik melawan macan dalam Max Havellar.
Bendera gula klapa ini disimpan dalam ruang pertemuan tadi. Dan selama 20 tahun tidak boleh dikibarkan secara terang2an di seluruh Hindia Belanda - kecuali di Kasunanan dalam bentuk dwaja Gula Klapa serta di Kasultanan dalam bentuk baru sebagai dwaja Wiråbräjå saat Garebeg.
Sebuah panitya yg menerangkan bendera merah putih secara resmi dibentuk pada 1944 diketuai Ki Hajar Dewantara dan siap dikibarkan untuk pertama kali saat proklamasi.
TRADISI KULIAH DI BELANDA DITERUSKAN
Pada 1919 Sultan mengirimkan lebih banyak lagi putranya untuk belajar di Nederland.
Saat Gusti Purubaya naik tahta sebagai Sultan HB VIII ia mengirimkan putra2nya antara 1920s dan 1930s. Termasuk Gusti Dorojatun (kelak HB IX) dan saudaranya Gusti Tinggarto.
Ini adalah langkah strategis Sultan agar para pangeran terbiasa dengan komunitas, budaya, cara berfikir intelektual barat.
Ia berpesan dalam sebuah surat
"Selama kalian (belajar) di Netherlands, Buka pintu hatimu seluas mungkin. Belajarlah menyelami karakteristik orang Belanda. Fahami cara berfikir mereka dan kelemahan mereka. Karena di kemudian hari kalian akan selalu berurusan dengan mereka".
Demikian sedulur, tidak perlu kita ribut antek londo dll, kita tidak tahu apa yang telah dilakukan para pemimpin dahulu. Mereka tetap berjuang dengan cara tersendiri untuk mencapai kemerdekaan. Sesuai kapasitas dan keadaan saat itu.
Rujukan
Kompas
Monfries, J. (2018). King of the Republic: The Life of Sultan Hamengku Buwono IX of Yogyakarta. Translation by Uswatun Hasanah. Yogyakarta: Biography Publisher.
Parera, F. M. (1991). The Character of Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Cultural Reformer and Pioneer of the New Order. Prism: On the Stage of History From Sultan to Ali Moertopo, Special Edition 20 Year Prism, 41-80.
Poeze, H. (1986). In het Land van de Overheerser, Indonesiers in Nederland 1600-1950, Volume I. Dordrecht: Foris.