Journalnusantara.com - Solo, Oktober 1937, pada suatu hari yang cerah seorang opsir KNIL bersama seorang koleganya memasuki serambi muka sebuah rumah di Manahan, Solo. Pria itu lulusan KMA Breda yang ditempatkan di Batalyon Infantri 1 Magelang.
Di rumah Oetojo Ramelan, sang tuan rumah kebetulan ada dua adik perempuan. Rupanya pertemuan itu membuat Utami, adik perempuan yang kecil tertarik pada sang perwira KNIL tadi.
Tak lama kemudian Soeriadi, demikian nama sang perwira tadi kembali ke Solo untuk menghadiri sebuah pesta kavaleri. Malam harinya, saat pesta dansa Di, mengajak Tami dan kakaknya untuk menghadiri.
Sayang, Ayahnya tidak mengizinkan dua bulan kemudian, tepat pada malam pergantian tahun telpon berdering di rumah Utami.
"Selamat Tahun Baru! Ada kabar baik..." Suara Soeriadi kedengaran riang diseberang"
"Saya diterima sebagai siswa Militaire Luchtvaart (Penerbangan Militer) di Bandung"
"Selamat, Di! Saya turut bergembira," kata Tami.
Hening sesaat ...
"Maukah kau menjadi istriku? Saya Cinta padamu!" Suaranya menghilang ditelan malam gelap. Dunia rasanya berhenti berputar, begitu Tami mendengar pertanyaan itu.
Tam, Tam... Tami kau masih di situ?"
"Ya," jawabnya
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Maukah kau menjadi istriku?"
Dunia yang rasanya tadi berhenti berputar sejenak, berputar lagi. "Saya mau," bisiknya.
Dua bulan kemudian, 2 Februari 1938 Soeriadi Suryadarma dan Utami Ramelan resmi bertunangan.
Setelah pertunangan itu, Soeriadi harus pindah ke Bandung. Namun setiap hari minggu jam 5 pagi, ia sudah mengetuk pintu rumah di Manahan. la selalu membawa dua buah koper, satu berisikan pakaian, yang lain berisikan sebuah bantal untuk dipakai di kereta api malam.
Setelah minum kopi dan ngobrol sebentar dengan orang tua Tami, keduanya lalu berjalan-jalan disekitar Taman Partini yang rimbun dengan pohon-pohon Cemara.
Mereka berjalan-jalan sampai pukul 8 pagi, lalu pulang, karena harus mandi dan sarapan. Soeriadi kemudian berangkat Iagi kembali ke Bandung dengan kereta ekspres pagi.
Begitulah, kedatangannya setiap hari Minggu pada pukul lima pagi subuh dan kemudian berangkat Iagi pukul sembilan pagi itu juga. Berarti ia dua puluh empat jam berada di kereta api, hanya untuk mendapatkan kesempatan empat jam bersama tunangannya. Kesemuanya meyakinkan ayah Utami akan kesungguhan cinta Soeriadi kepada putrinya.
Pada 3 Juni 1938 mereka menikah di catatan sipil dan keesokan harinya dilangsungkan ijab dan temu pengantin.
Usai bulan madu ke Tawangmangu, Utami lalu diboyong suaminya ke rumah dinasnya di Generaal Spoorlan, Meester Cornelis, Batavia.