daerah

Lisnawati : Tradisi Bangkong Reang sebagai Tanda Syukur kepada Allah SWT

Rabu, 16 November 2022 | 10:13 WIB
Tradisi Bangkong Reang merupakan kearifan lokal masyarakat Sunda Jawa Barat., dan sawah merupakan tempat yang menjadi sumber inspirasi dari tradisi tersebut. (Instagram.com/@akbarsyah_04 - @mbolangjatim)

JournalNusantara.com - Kesenian Bangkong Reang merupakan salah satu kesenian tradisional yang lahir dan tumbuh, serta berkembang dalam kehidupan masyarakat di Desa Lebak Muncang adalah hasil penciptaan atau penerapan nilai-nilai kehidupan yang bersumber dari akar budaya masyarakat setempat.

Keberadaan kesenian tersebut dipengaruhi beberapa aspek antara lain, letak
geografis, pendidikan, mata pencaharian, kepercayaan dan lain-lain. Namun, aspek paling
menonjol yang mempengaruhi munculnya suatu jenis kesenian tradisional adalah mata
pencaharian hidup dan kepercayaan.

Baca Juga: Rivaldi : Efektifkah Membaca Koran Kovensional di Zaman Sekarang ?

Pada awalnya, bangkong reang merupakan hiburan di sawah dengan menirukan suara kodok, gaang, dan cengkerik. Waditra atau alat musik khas Sunda yang digunakan cukup sederhana, yaitu borogododod, kungkong, dan bebunyian gaang atau cengkerik.

Kesenian dari Tanah Sunda ini tersebar ke beberapa daerah seperti Desa Lebak Muncang di
Ciwidey, Desa Cikawung di Ciparay, Desa Pagelaran di Cianjur.

Dalam bahasa Sunda, bangkong artinya kodok dan reang berarti terdengar suara banyak orang atau binatang.

Tradisi Bangkong Reang.

Sederhananya, kesenian bangkong reang terdengar seperti banyak suara kodok dengan pola
irama musik tertentu.

Nilai yang terdapat dalam simbol benda dalam tradisi Budaya Bangkong Reang adalah nilai
estetis yang menyangkut keindahan seni, kreasi, dan hiburan rakyat. Nilai sosial sebagai
unsur pembangun kehidupan sosial untuk saling bergotong royong, saling membantu, dan
saling berdampingan.

Nilai yang terdapat dalam pelaku tradisi Budaya Bangkong Reang
dalam kehidupan sehari-harinya adalah nilai sosial sebagai unsur pembangun kehidupan
sosial untuk saling bergotong royong, saling membantu, dan saling berdampingan agar
menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Baca Juga: Toni Hermawan : Media Masa Mainstream, Peluang dan Tantangan di Tengah Pesatnya Media Online

Nilai religius berkaitan dengan nilai-nilai ritual
keagamaan( Islamiyah) yaitu syair-syair tembang doa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Allah
SWT..

Menurut warga setempat, masyarakat zaman dulu dengan mayoritas petani jika ingin
menghasilkan tanaman yang subur maka setiap akan panen maka dilakukan pertunjukan
kesenian ini, dalam rangkaiannya terdapat sebuah syair yang melantunkn harapan-harapan
serta doa kepada Tuhan.

Alat musik di antaranya adalah kingking atau sama seperti angklung
terbuat dari bambu wulung. Bambu wulung sendiri memiliki nilai estetis selain itu
mempunyai nilai sejarah karena konon zaman dulu para pejuang tanah air melawan penjajah
menggunakan bambu ini, hingga sekarang bambu dijadikan alat seni budaya Budaya
Bangkong Reang. ***

Halaman:

Tags

Terkini

Empat Pilar Harus Ditanamkan Sejak Dini

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:17 WIB