JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR - Pemerintah Kabupaten Cianjur terus memacu pertumbuhan ekonomi daerah dengan mengarahkan investasi pada sektor-sektor berbasis potensi unggulan.
Industri pengolahan, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga pariwisata menjadi fokus utama pengembangan penanaman modal. Langkah ini diambil untuk memastikan hadirnya nilai tambah sekaligus dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Cianjur, Superi Faizal, menegaskan bahwa besaran modal tidak lagi menjadi satu-satunya kriteria utama.
Kebijakan investasi daerah kini lebih memprioritaskan kesesuaian karakteristik dan konektivitas sektor dengan keunggulan wilayah Cianjur.
"Investasi yang masuk harus memiliki keterkaitan dengan potensi yang dimiliki Cianjur sehingga memberikan nilai tambah dan dampak ekonomi bagi masyarakat," katanya.
Sektor industri pengolahan sejauh ini masih mendominasi dengan capaian Rp1,085 triliun atau 81,6 persen dari total realisasi investasi Semester I 2026 yang menembus Rp1,33 triliun.
Capaian dari 204 Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) tersebut berhasil menyerap 1.674 tenaga kerja. Di samping itu, investasi juga tersebar pada jasa keuangan Rp60,26 miliar, pertambangan Rp54,97 miliar, pertanian dan perikanan Rp44,07 miliar, serta real estat Rp32,63 miliar.
Mengingat sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan menyumbang 31,76 persen PDRB Cianjur pada 2025, Pemkab Cianjur kini mempercepat program hilirisasi. Potensi modal dibuka lebar untuk industri agroprocessing komoditas kopi, teh, kelapa, karet, hingga tanaman obat, guna mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi.
Penggunaan teknologi pertanian modern seperti internet of things (IoT), greenhouse, dan sistem rantai dingin (cold storage) juga terus didorong.
Pemerintah daerah turut mengoptimalkan lahan industri seluas 981 hektare di koridor strategis penghubung Jabodetabek dan Bandung Raya.
Pada sektor pariwisata berkelanjutan, peluang investasi diarahkan pada pengembangan eco resort, wellness tourism, hingga wisata pesisir di Cianjur Selatan. Seluruh iklim usaha ini didukung kepastian tata ruang lewat Perda RTRW Nomor 7 Tahun 2024 serta integrasi perizinan digital.
"Jadi bukan hanya bagaimana investasi masuk, tetapi bagaimana investasi tersebut memberikan dampak nyata terhadap perekonomian daerah dan masyarakat," ucapnya.