JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR - Rencana unjuk rasa simpatik yang dimotori oleh Aliansi Masyarakat Cianjur Peduli MBG di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) serta Pendopo Bupati Cianjur mendapatkan lampu hijau dari organisasi petani lokal.
Dukungan moril tersebut mengalir menjelang pelaksanaan aksi yang dijadwalkan berlangsung pada hari Kamis besok.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Cianjur, Hasan Munadi, menegaskan bahwa gerakan turun ke jalan ini merupakan refleksi penyampaian pendapat yang legal dan dilindungi undang-undang.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bukti nyata betapa besarnya perhatian publik terhadap masa depan program MBG yang selama ini bersentuhan langsung dengan hajat hidup para produsen pangan.
Sebagai representasi kaum agraris, pihak Tani Merdeka menyatakan kesiapan untuk mengawal jalannya penyampaian aspirasi bersama komponen warga lainnya.
Kendati demikian, Hasan memberikan catatan tebal agar seluruh massa aksi tetap menjaga kondusivitas dengan menjauhi segala bentuk tindakan destruktif, hasutan, ataupun gesekan yang dapat memicu ketidakamanan di wilayah Cianjur.
Pihaknya berpandangan bahwa skema MBG sejauh ini telah memberikan kontribusi besar, terutama dalam menciptakan ekosistem niaga yang sehat lewat kepastian penyerapan komoditas dan normalisasi harga di tingkat produsen.
Intervensi program tersebut dinilai sukses mengembalikan gairah kerja para petani yang sempat lesu akibat ketidakpastian pasar.
"MBG adalah jalan kesejahteraan petani. Program ini telah membuktikan dampak konkret—petani memiliki pasar tetap, harga lebih stabil, dan gairah bertani kembali tumbuh," kata Hasan dalam keterangan tertulisnya.
Ia juga memperingatkan jika program strategis ini sampai disetop, para petani dipastikan bakal kembali terjebak dalam cengkeraman spekulan dan memicu kekacauan pada rantai distribusi pangan nasional.
Bukan sekadar mengandalkan aksi massa di lapangan, organisasi buruh tani ini juga menginisiasi gerakan batin melalui pelaksanaan doa bersama dan istigosah.
Ritual keagamaan ini sengaja digelar sebagai langkah spiritual agar para pemangku kebijakan di tingkat birokrasi diberikan ketetapan hati untuk menelurkan regulasi yang memprioritaskan masyarakat akar rumput.
Lebih lanjut, Hasan mengimbau segenap lapisan masyarakat mulai dari petani, pelaku usaha mikro, hingga para sukarelawan untuk bersatu dalam doa demi lahirnya keputusan politik yang berkeadilan.
Di samping itu, dirinya mendesak jajaran otoritas pusat maupun wilayah untuk memformulasikan payung anggaran yang definitif serta pengelolaan yang bersih demi menggaransi keberadaan program MBG ke depan.