JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR - Ada cerita lucu dan menarik di balik kegiatan pelatihan pangkas rambut yang dilaksanakan oleh Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kabupaten Cianjur pada Ahad (21/6/2026).
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris RMI PCNU Cianjur, KH. Ahmad Baehaqi. Kegiatan yang digelar di Aula PCNU Cianjur ini diikuti oleh kurang lebih 100 peserta yang merupakan utusan dari 50 pondok pesantren se-Kabupaten Cianjur.
Dari sekian banyak santri yang ikut serta, terlihat beragam ekspresi yang mengundang tawa. Ada mimik santri yang bergembira, ada yang bermuka datar, muram, ada yang hampir menangis, bahkan sampai ada santri yang tidak kunjung pulang hingga sore hari.
Pelatihan yang memakan waktu dua jam, mulai pukul 10.30 hingga 12.30 WIB ini, meninggalkan kesan tersendiri bagi panitia. Maklum, momen ini merupakan pengalaman pertama bagi mayoritas santri yang hadir.
Di tengah pelatihan berlangsung, panitia mulai mengecek satu per satu peserta. Pemeriksaan dimulai dari salah satu santri yang sejak awal terlihat senyum-senyum sendiri hingga giginya yang agak menguning terlihat jelas.
Saat ditanya oleh salah satu panitia mengenai alasan dirinya terus tersenyum, santri tersebut langsung mengungkapkan rasa syukurnya.
Ia mengaku bahwa pelatihan ini adalah hal yang sudah lama dinantikannya karena sempat bingung saat ditanya oleh calon mertua mengenai pekerjaannya kelak setelah menikah.
Sambil berseloroh, ia mengatakan bahwa jika sudah bisa memangkas rambut melalui pelatihan ini, ia bisa menjawab dengan percaya diri bahwa pekerjaannya adalah menjadi tukang cukur.
Cerita unik tidak berhenti di situ. Panitia lain kemudian menghampiri seorang santri di posisi tengah yang wajahnya tampak datar tanpa ekspresi, cemberut, bahkan sempat ngambek karena enggan dicukur.
Merasa heran dengan pemandangan yang kontras tersebut, panitia pun menanyakan alasan di balik keterpaksaannya.
Santri tersebut menjawab dengan nada penuh penyesalan bahwa ia sebenarnya ingin mempertahankan rambut kuncir di bagian belakangnya.
Namun, ia terpaksa merelakan rambutnya dipotong habis karena panitia mewajibkan seluruh peserta untuk patuh pada arahan instruktur.
Di sudut lain, ada pula santri yang terlihat sangat pemilih dan enggan dicukur oleh sesama temannya. Ketika panitia menegaskan alasan mengapa ia harus dicukur langsung oleh instruktur, santri tersebut memberikan alasan yang cukup krusial.
"Jangan dipotong terlalu dalam rambutnya, besok saya mau lamaran," pintanya dengan nada serius.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Seorang Pejuang (Bagian 2249)
Rumah Zakat Beri Bantuan Modal Usaha Konter untuk Guru Ngaji di Cianjur
PWI Cianjur Berencana Gugat Media Online Terkait Pemberitaan yang Dinilai Menyudutkan
Sidang Gugatan Pedagang Cibeber, PT Agrinas Dipanggil Ulang oleh PN Cianjur
Pesantren Mama Cipoek Cianjur Gelar Wisuda Angkatan Keenam Najmutssuroya
Mutiara Pagi: Jalan Tak Pernah Buntu (Bagian 2250)
Kapolda Jabar Bekuk Taufik Hidayat Tersangka Penyekapan dan Penganiyayaan
Lindungi Nasib Petani, Ketua Tani Merdeka Cianjur Desak Pemerintah Jamin Keberlanjutan Program MBG
Sinergi Disbudpar Cianjur dan Toko Nuhun Dorong Kemajuan Seni, Budaya dan Pariwisata
Manipulasi Data Penerima Terbongkar, Bulog Cianjur Pastikan 2,7 Ton Beras Bantuan yang Nyaris Dijual Kembali Aman