Oleh: HM Basori, M.Si (Instruktur Nasional GP Ansor)
Perjalanan panjang NU dari mulai berdiri, masa penjajahan, masa kemerdekaan hingga sekarang memang sangat panjang, bahkan 7 Februari 2023 sudah genap 100 tahun atau satu abad. sebagai organisasi sosial keagamaan yang di dirikan oleh para masyayih di masa dimana semua masih tradisional dan dalam kesulitan melahirkan tokoh tokoh sesuai dengan zamannya.
Para masyayih pendiri NU adalah seorang kyai hebat, wirai, alim, ahli ibadah bahkan sekelas wali. Perilaku hidupnya sangat relegius, sufi dan dekat dengan lapisan masyarakat. Kondisi tersebut pelan tapi pasti telah bermetamorfosis dengan alasan kemajuan tehnologi, informasi, peradaban manusia maju hingga zaman modern dengan tehnologi super canggih.
Baca Juga: Viral! Aktif Bantu Pengungsi Korban Gempa Cianjur, Seorang IRT Dicari Aparat
Pedoman para masyayih sebenarnya sama dengan yang kita pedomani saat ini, yaitu Al qur’an hadits ijmak qiyas para ulama. Beliau para masyayih mampu memberikan kesejukan, kesederhanaan hidup hingga sebagai orang gang keramat bahkan dikeramatkan. Para kyai NU adalah tuntunan dan sumber inspirasi umat yang katanya tradisional dengan memegang teguh komitmen Islam Ahlus sunnah Waljamaah.
Pertanyaannya ada apa dengan Perilaku Kader NU sekarang.
Nilai luhur NU yang tercatat dalam AD/ART, Mabadi’ Khoirul Umah dan pokok pokok perjuangan para masyayih masih sama dan utuh. Para kader NU sudah mengerti faham bahkan sadar bagaimana ber NU di semua lini kehidupan. Namun kenapa perilaku dan orentasi kader NU bisa tergerus oleh perkembangan zaman ??? Ini yang harus mulai kita sadari dan kita format kembali, karena banyak kader NU yang lupa nilai luhur yg dilakukan orang para masyayih.
Baca Juga: Hoaks! Foto Kalender Januari 2023 Terdapat 25 Tanggal Merah
Politik dan kekuasaan menawarkan kemewahan karena memang dalam kekuasaan banyak fasilitas yang disediakan. Fasilitas kekuasaan yang ada melahirkan Perilaku hidonis para kader NU dalam kehidupan sehari hari. Bahkan para pejabat dari kader NU mulai menggoda para kyai dan pengelola lembaga dengan iming iming fasilitas dan uang.
Perubahan perilaku hidup ini akhirnya merubah orentasi para kader NU bagaimana seharus memegang teguh warisan luhur para masyayih. Pola hidup hedonis melahirkan seseorang untuk mendapatkan uang sebanyak banyak tanpa melihat halal atau haram. Maka akhirnya banyak kader NU yang tersandung masalah hukum karena melakukan KKN.
Pola pikir kader NU yang hidonis dan materialis sudah menjalar ke seluruh warga NU dengan berbagai bentuk dan jenis. Orang luar NU memandang kerakusan kader NU telah merendahkan NU yang luhur dan mulia pada titik nadir. Kondisi inilah yang harus segera kita sadari agar NU tetap baik dan memiliki nilai sebagaimana yanh dinwariskan oleh masyayih dan ulama. Terlalu banyak kader NU yang belajar kurang baik dalam mencari uang.
Baca Juga: Gong Xi Fa Cai dan Tahun Baru Imlek di Indonesia
Kekuasaan dipahami sebagai komoditas sehingga pola pikir transaksional dan selalu memgedepan manajemen UNTUNG menjadi inspirasi dalam kehidupannya. perubahan perilaku ini menjadi masalah yang serius dan harus kita sadari agar bisa meminimalisir perilaku menyimpang tersebut.
Para pengurus struktural NU harus mulai mengendalikan diri dalam dinamika kekuasaan dan politik agar nilai luhur NU bisa terjaga dengan baik. Tradisi feodal dalam pergantian pengurus juga harus diminimalisir agar para pengurus syahwat politiknya tidak terlalu besar. Ber NU dengan benar harus mulai kita gaungkan karena kondisi perilaku kader NU baik yang dipolitik maupun diluar politik sudah mengkhawatirkan.