Keterbukaan dunia dengan kemajuan sains dan teknologi, khususnya di bidang informasi, menjadikan anak-anak terekspos pada dunia yang boleh jadi secara mendasar sangat berbahaya bagi perkembangan dan “well being” (kesejahteraan) mereka. Dari ancaman moralitas (pornography misalnya) hingga ke tekanan mental karena media sosial dengan segala hiruk pikuknya menjadikan banyak anak-anak yang tertekan dan kehilangan jatidirinya.
Belum lagi realita di Amerika misalnya yang mengatakan bahwa 50% lebih anak-anak (generasi muda) merasa kesepian (lonely generation). Bahkan 2/3 persen atau 2 dari 5 generasi muda di Amerika merasa hidup tanpa makna atau tujuan yang pasti.
Akibatnya anak-anak atau generasi muda ini memiliki perasaan marah (angry) dan cenderung putus asa. Walhasil berbagai kekerasan termasuk penembakan menjadi pemandangan umum di negara yang merasa isrimewa (exceptional) ini. Indikasi itu nampak pada kecenderungan anak-anak muda bermain game atau Mendengarkan musik-musik yang bernada keras. Bahkan indikasi itu juga terlihat pada prilaku anak remaja kepada orang tuanya.
Baca Juga: Transformasi Digital Produk Kantor Pos dan Giro
Dalam penelitian yang dilakukan oleh perusahaan internasional di bidang kesehatan bernama Cigna di tahun 2019 disebutkan bahwa salah satu penyebab dari generasi kesepian (lonely) dan marah (angry) itu karena mereka merasa terabaikan. Perhatian dan kasih sayang orang tua mereka rasakan sangat minim.
Kesimpulan dari semua itu adalah jika suami-isteri dan anak-anak telah mengamami kekacauan hidup seperti di atas maka tentunya institusi keluarga telah porak poranda. Dan dalam sebuah bangsa, bagaimanapun hebatnya, jika institusi kekuarga rusak maka bangsa itu dapat dikategorikan “a fail nation” (bangsa yang gagal).
Lalu apa solusi Islam menghadapi realita dunia modern ini? (Bersambung….).
NYC Subway, 3 December 2023
Presiden Nusantara Foundation