Oleh : Nang Go
Di era smartphone, segalanya menjadi relatif mudah. Hampir keperluan modernitas sudah tersedia fitur dan aplikasinya. Tinggal download dan instal saja di play store. Mulai dari belanja, mencari ayat Qur'an atau hadis Nabi, sampai kepada alat kamera atau video. Sudah tinggal klik dan klik. Beres. Wuih mudahnya hidup di dunia digital....
Bagi orang yang senang fotografi, tidak susah harus menenteng kamera konvensional, yang biasanya ribet. Cukup membawa makhluk kecil ajaib saja, hape android, bisa yang mahal, atau yang murah. Pokoknya asal ada aplikasi fotonya. Meski tentu kualitasnya berbeda.
Baca Juga: Mengenang Tsunami Aceh 26 Desember 2004: Ratusan Ribu Orang Meninggal Dunia
Di zaman boomingnya hape android sekarang, hampir tidak ada momen apapun yang lupa diabadikan. Mulai dari kegiatan kongkow di caffe sampai kegiatan-kegiatan penting yang monimental, tidak ada yang tidak diabadikan dengan menggunakan photo praktis di hape. Dan bagi orang yang punya hobby berphoto bersama orang besar, hape android itu sangat membantu untuk mengeksiskan dirinya. Tapi masalahnya, apakah seseorang yang punya kesukaan berphoto dengan orang besar bisa membantu dirinya untuk menjadi besar?
Baca Juga: Kasihan, Puluhan Korban Gempa Cianjur Idap Gangguan Jiwa
Pasti semua menjawab tidak sama sekali. Menjadi orang besar bukan karena berphoto dengan besar. Bisa saja menjadi besar tetapi besar kepala karena ia sering merasa bangga karena berphoto dengan orang besar. Seorang penganggur yang berphoto bersama dengan presiden Jokowi sekalipun, meskipun berkali-kali dalam momen yang berbeda, ia tidak akan menjadi apa-apa kecuali tetap saja penganggur. Seorang yang berphoto bersama berpuluh kali dengan UAS, ia tidak akan menjadi seorang mubaligh atau ilmuwan seperti UAS. Tetap saja, tidak akan merubah apapun.
Baca Juga: Duta Kebudayaan Indonesia 2021 Harumkan Nama Baik Negara di Singapura, Malaysia, dan Thailand