opini

Life Healing Pasca Berakhirnya Masa Tanggap Darurat Gempa

Selasa, 13 Desember 2022 | 06:10 WIB

Oleh : Nanang Gojali

Gempa bumi yang mengguncang 16 kecamatan di kabupaten Cianjur, telah dan akan meninggalkan catatan sejarah kelam bagi daerah yang dikenal dengan tatar santri. Gempa yang berkekuatan 5,6 magnitudo itu telah menelan ratusan korban meninggal, ribuan orang luka berat dan puluhan ribu rumah mengalami kerusakan, dari kerusakan berat hingga ringan. Dan entah berapa trilyun nilai total dari kerugiannya. Hingga kini belum ada release data resmi dari lembaga terkait. Karena itu, tidaklah berlebihan, jika pemerintah menjadikan status gempa bumi Cianjur sebagai bencana alam nasional terbesar tahun 2022 ini.

Setelah berkali-kali duguncang bencana alam, melalui gempa bumi Cianjur, lagi-lagi bangsa Indonesia mampu menunjukkan kualitas kemanusiaannya yang adil dan beradab dan persatuan keindonesiaannya sebagai manifestasi sila kedua dan ketiga Pancasila. Tanpa harus menunggu lama dari detik-detik terjadinya gempa, beberapa jam kemudian dari pukul 13.00+ hari Senin tanggal 21 November, mobil bala bantuan berbondong-bondong berdatangan dari berbagai daerah dan provinsi, hatta dari negeri jiran seperti Malaysia, Singapur dan Brunei Darussalam. Sejak hari kedua hingga saat ini, donasi dan berbagai bantuan masih terus berdatangan sehingga posko-posko penampungan pun hampir tidak mencukupi lagi. Dari mulai barang-barang kebutuhan pokok hingga alat-alat rumah tangga hampir sudah berjubel di setiap gedung penampungan. Lakon Derita Cianjur adalah Derita Seluruh Anak Bangsa saat ini sedang diperankan di panggung sejarah kemanusiaan. Sebagai orang Cianjur, disini penulis ingin menunjukkan rasa bangga sekaligus haru kepada seluruh pengunjung dari berbagai belahan suku dan daerah, dari Sabang sampai Papua, yang begitu antusias menunjukkan rasa senasib sependeritaannya dengan kami semanusia, sebangsa dan setanah air. Terima kasih kepada semuanya....!

Baca Juga: Terbaru! Jadwal Semi Final Piala Dunia 2022: Argentina vs Kroasia dan Perancis vs Maroko

Namun, dibalik semua perhatian, antusiasme dan kepedulian dari sesama anak bangsa yang kini tertampilkan dalam panggung sejarah kemanusiaan, ada sebuah pertanyaan yang mengganggu pikiran kita semua warga Cianjur, yaitu apa yang akan terjadi dengan warga yang menjadi korban pasca barakhirnya masa tanggap darurat terutama setelah tidak ada lagi bantuan kemanusiaan?

Boleh jadi, untuk sebulan kedepan stok bantuan bahan pokok pangan masih aman. Semua warga yang terdampak masih merasa lega karena masih mendapat pasokan bantuan. Termasuk untuk penampungan sementara masih disediakan ribuan tenda. Dan belum harus memikirkan perbaikan rumah yang rusak. Namun setelah itu, what will happen?

Baca Juga: Heboh, Bupati Meranti Sebut Kemenkeu Iblis dan Ingin Gabung Malaysia, Ini Sejarah Penghasil Minyak Tersebut

Kami harus bangkit dan kembali ke hehidupan normal, tampaknya harus menjadi motto yang digaungkan kepada mereka yang terdampak langsung. Semangat dan motivasi itu harus terus dilecutkan kepada mereka karena banyaknya bantuan dan ketersediaan bahan pokok selama ini, secara psikologis bisa saja justru melahirkan mental malas untuk bangkit, bisa menjadi bahkan keenakan berada dalam kondisi seperti ini. Sebab, tentu saja mereka tidak bisa selamanya hidup dalam situasi darurat. Harus bangkit dan kembali menjalani kehidupan seperti sebelum terjadinya gempa bumi. Harus kembali bertani sebagai mata pencaharian utama mereka. Disinilah pentingnya para tokoh agama, pemerintah, para tokoh masyarakat dan cendekiawan untuk memberikan motivasi dalam rangka mengembalikan semangat berjuang menjalani hari-hari mengisi kehidupan ini. Jika selama ini sudah banyak dilakukan program trauma healing bagi anak-anak dan remaja, maka tidak ada sakahnya jika dilakukan juga life healing untuk mengembalikan semangat berjuang bagi orang dewasa.

Wallahu a'lam.

Baca Juga: Putra dan Putri Provinsi Aceh Kawinkan Gelar Duta Pariwisata Indonesia 2022

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB