Oleh : Nanang Gojali
Cianjur dikenal sebagai tatar atau kota santri. Sebutan ini sudah melekat dalam benak banyak orang. Terlepas apakah sebutan ini sesuai fakta atau tidak, paling tidak untuk kontek kekinian.
Julukan Cianjur sebagai tatar santri bukan baru-baru setahun dua tahun yang lalu, tetapi sudah sejak tahun 1877, sudah lebih dari seabad.
Rasionalitas historisnya, sebagaimana juga Indonesia didirikan, Cianjur didirikan oleh para ulama penyebar agama Islam. Adalah Raden Aria Wiratanu yang lebih dikenal dengan sebutan Eyang Dalem Cikundul, seorang ulama ahli salik dengan membawa mandat dari Syarif Hidayatullah sebagai sultan kerajaan Islam Cirebon- yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tatar Cianjur.
Baca Juga: Piala Dunia 2022: Menang Atas Australia, Argentina Bakal Bertemu Belanda di Babak 8 Besar
Beliau dengan dibantu ratusan santrinya yang sengaja dibawanya dari tempat asalnya, Sagaraherang, mulai mendakwahkan agama Islam di masyarakat sekitar bantaran sungai Cikundul (sekarang wilayah kecamatan Cikalongkulon).
Hingga hari ini, usia agama Islam di tatar Cianjur sudah berumur hampir dua abad. Melalui lidah para da'i yang dilakukan secara generatif dan berkesinambungan, kini hampir seluruh warga masyarakat kabupaten Cianjur menganut agama Islam.
Baca Juga: GP Ansor Cipanas Gelar Baksos Kepedulian Bagi Korban Gempa Cianjur
Atmosfir kehidupan beragamanya mencerminkan keberagamaan Islam. Lembaga-lembaga pendidikan dan pembinaan keagamaan Islam banyak tersebar di kabupaten yang kini bermottokan Cianjur Manjur dan Berakhlak Mulia. Masjid dan mushalla, tercatat ada sebanyak 6000-an lebih.
Jika melihat fakta itu, rasanya tidak terlalu berlebihan kalau disimpulkan bahwa secara umum, masyarakat Cianjur adalah masyarakat yang relijus, yang masih kuat berpegang pada nilai-nilai dan tradisi keagamaan Islam.
Dari gambaran sosiologis keagamaan di atas, apa yang sedang terjadi di Cianjur saat ini adalah semacam test case untuk memverikasi kesantrian warga Cianjur.
Baca Juga: Meriah, West Point Hotel Bandung Gelar Grand Opening 8th Cafe and Skylounge
Masih berlakulah jukukan Cianjur sebagai tatar santri, atau hanya sekadar petilasan? Hasil test case nanti akan bisa dilihat dari dua hal sebagai berikut:
1. Tingkat kepedulian warga Cianjur cukup membanggakan dalam ikut membantu saudaranya yang terdampak;
2. Tingkat kesabaran dan keberserahan diri warga kepada kehendak dan ketetapan Allah dalam menyikapi dan menerima kenyataan menjadi korban gempa bumi.