Oleh : Nunu A Hamijaya (Pituin Kaum Cianjur-Penulis Buku Tetralogi Islam Bernegara)
Percaya pada diri sendiri, berdiri diatas kaki sendiri,tidak takut pada kemiskinan, tidak takut tidak berpangkat , unsur -unsur yang tidak dikenal dalam kastanya -bangsawan prijayi.
Ada dua tokoh besar pribumi Hindia Belanda yang kakiknya menginjak tanah TJIANDJOER. Keduanya mungkin tak dikenali oleh Generasi Z, juga mereka yang hidup lahir tahun 60-80 an yang hidup dalam zona nyaman, tak sadardiriya sebagai pribumi terjajah meski sudah punya negara dan pemerintahan sendiri (zelfbestuur). Terkungkung oleh rantai ‘kebangsaan yang arogan’ dan sistem demokrasi : si penumpang gelap pembawa kapiltalisme global.
T.A.S. atau singkatnya TIRTO : Sang Pemula
"Percaya pada diri sendiri, berdiri diatas kaki sendiri,tidak takut pada kemiskinan, tidak takut tidak berpangkat , unsur -unsur yang tidak dikenal dalam kastanya -bangsawan prijayi"
Baca Juga: H. Bambang EKo Caleg DPRD Cianjur Dapil 4, Membangun Masyarakat Berbasis UMKM
Itulah deskripsi tentang TAS (Tirto Adhi Surjo) oleh Pram A.Toer.
Dari buku berjudul SANG PEMULA, karya Pram. A.T ( Hasta Karja, 1985) kita mengenal sosok ini. Lahir di Blora, 1880, adalah cucu R.T.M. Tirtonoto, Bupati Bojonegoro.Sedangkan ayahnya R.Ng. Haji Moehammad Chan Tirtodhipoero, pegawai kantor Pajak. Istrinya adalah Princes Fatimah, puteri Sultan Bacan, Muhammad Sadik Syah ( menjabat 1862-1889).
Kehidupannya di Cianjur, berkaitan dengan abangnya R.M. Said yang menjadi jaksa di Cianjur.Abangnya termashur sebagai pemberantas lintah darat dan sebagai asisten wedana diperbantukan pada Dinas Pemberantasan Lintah Darat. Bupati saat itu adalah R.A.A.PRAWIRADIREDJA.
Dengan modal pribadinya dan bantuan Bupati, sebuah surat kabar pribumi pertama di Hindia Belanda, terbit pada Februari 1903 dengan nama SOENDA BERITA, terbit setiap Minggu dengan harga 20 sen, berlangganan 80 sen sebulan. Besar formatnya 21x28 cm, 16 halaman, kertas koran. Tirasnya 1.500. Adapun pembaca SB adalah tokoh elit saat itu, yang justru di luar Cianjur, bahkan luar Jawa.
Baca Juga: Prasasti Zelfbestuur 1916 Antara Tjokroaminoto dan Soekarno Bandung sebagai Kota Zelfbestuur Islam (
Persentuhannya dengan pergerakan islam pada zamannya membuat SAREKAT DAGANG ISLAMIYYAH di Bogor (1909) untuk menyaingi pesatnya SAREKAT DAGANG ISLAM-nya H. Samanhoedi di Solo-Laweyan. Masih menjadi misteri, bagaimana sikapnya terhadap pergerakan Sarekat Islam, pasca 1912 dengan kemunculan tokoh besar bernama OEMAR SAID TJOKROAMINOTO sebagai Ketua Sarekat Islam (1914-1934). Sebab,dirinya meninggal pada 7 Desember 1918.
Terpaut 5 hari setelah meninggalnya, MAS MARCO KARTODIKROMO, masjhur dikenal sebagai pamannya SEKARMAJI MARIJAN KARTOSUWIRJO – Imam NII/DI-TII ( 1907-1962) menulis dari Jawa Tengah…
….saya mesti mengaku juga bahwa lantaran pimpinannya saya bisa menjadi redaktur pada ketika saya ada di Bandung, kumpul serumah dengan beliau, seorang jurnalis Jawa paling tua, pun beliau seorang Bumiputera yang pertma kali membikin NV..yang masyhur di seluruh Hindia lantaran keberaniannyaa mengusik laku kesewang-wenangan …
Demikian,sedikit jejak TAS di bumi Tjiandjoer !