Oleh: Nadirsyah Hosen
Ada yang bertanya: “benarkah haji di masa modern ini bukan semata-mata merupakan panggilan dari Allah, tapi juga panggilan dari Raja, Kemenag, maupun Ormas?”
Entah kenapa pertanyaan ini ditujukan kepada saya, bukan kepada yang lain. Saya tentu enggan menjawabnya karena nanti bisa menyenggol sejumlah pihak, termasuk para sahabat saya sendiri yang saya sayangi.
Yang jelas sebagaimana lazimnya kita alami, dalam sebuah antrian panjang di kantor pemerintahan, akan ada orang yang baru datang dan kemudian bisa langsung dilayani tanpa ikut antrian. “Saya sudah dipanggil Bapak Menteri Anu”
Atau sebuah pemandangan biasa dalam suasana macet di jalan raya, tiba-tiba ada ninu-ninu lewat membawa rombongan pejabat atau tokoh (atau siapa saja yang mendadak dianggap tokoh dengan cara khusus) yang menerobos kemacetan.
“Saya dipanggil oleh bangsa dan negara untuk menjalankan amanah sehingga mobil saya harus didahulukan”.
Baca Juga: Haji Itu Miniatur Kehidupan
Kira-kira begitu tamsilnya. Ada yang setia pada jalur antrian. Umumnya rakyat kebanyakan. Dan ada yang punya jalur khusus entah karena membayar lebih, punya akses, diundang Raja, jadi petugas, atau karena koneksi dan relasi khusus sesama perkumpulan.
Rakyat biasa yang antri belasan sampai puluhan tahun hanya bisa berharap ikut dapat “panggilan” keluar dari antrian.
Ali Syariati pernah melakukan refleksi yang menggetarkan: “Ketika saya berucap Labbaik Allahumma Labbaik….aku datang memenuhi panggilanMu Ya Allah, apa jadinya jika Allah menjawab: Tidak, kamu datang ke sini bukan karena panggilanKu!”
Sekali lagi, saya enggan menjawab pertanyaan di atas. Saya mengerti bahwa masih banyak cerita ajaib dari jamaah bagaimana mereka bisa sampai ke tanah suci, yang menunjukkan bahwa panggilan dari Allah itu memang nyata dan sukar dicerna akal.
Buat yang mendapat kesempatan dan hak-hak khusus keluar dari antrian karena “panggilan”, mohon lebih bijak dalam komen dan posting di medsos karena masih banyak rakyat yang harus mengantri belasan atau puluhan tahun. Mari bertenggang rasa.
Baca Juga: Jelang Puncak Haji, DPR RI Cek Kesiapan Tenaga Kesehatan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Buat semua jamaah haji baik yang jalur antrian ataupun jalur khusus, saya turut berdoa semoga semuanya menjadi haji mabrur. Amin Ya Rabb.