Oleh: Analisa Widyaningrum (Psikolog)
Buat yang kesabaran dan empatinya udah setipis tisu, coba rehat dan ingat ambisi plus tangki amunisi energimu.
Teringat dari satu event yang aku hadiri beberapa waktu lalu ketika bahas soal ambisi dan amunisi. Kadang suka dihadapin sama situasi ketika ambisi gak seimbang dengan amunisi.
Ternyata, usai acara tersebut aku semacam tersentil dengan berbagai kejadian sentimentil.
Banyak refleksi diri yang aku sadar untuk diminta belajar dan berproses lagi. Boleh punya ambisi, tapi mesti banyak “mawas diri”. Kalau gak, bisa bisa melukai orang lain dan diri sendiri.
Baca Juga: Pangdam III Siliwangi Tinjau Lokasi Penanganan Sampah Domestik dan Komunal
Ambisi itu akan berhadapan dengan ego sendiri..
Ego yang dimaksud adalah soal arogansi. Gak sadar lo, tiap manusia itu punya ini.
Jadi inget sama buku yang belum lama ini aku baca, “Ego is the enemy by Ryan Holiday”, di situ ada satu kalimat menggelitik.
“The ego we see most commonly goes by a more casual definition: an unhealthy belief in our own importance. Arrogance. Self-centered ambition.”
It’s not only about you. Kalau bisa lengkapi ego sama satu hal dalam dirimu, humility. Ikhtiar bole maksimal, tapi jalani hari ke hari ya harus tetep sabaarr. “Do your work. Do it well. Then ‘let go and let God."
Baca Juga: Wapres RI Sampaikan Penguatan Kerjasama Indonesia dan Uzbekistan