opini

Rekonsiliasi Negara-Negara Islam Timur Tengah, Madu atau Racun?

Rabu, 24 Mei 2023 | 23:29 WIB
Rekonsiliasi Negara-Negara Islam Timur Tengah, Madu atau Racun?


Oleh: Imam Shamsi Ali

Ada beberapa peristiwa global yang akhir-akhir cukup menarik perhatian kita. Selain perang Rusia vs Ukrain (baca NATO) yang masih terus berlangsung, juga isu tentang utang piutang (debt ceiling) di Amerika yang menjadi bahan “political pressure” di antara dua partai besar; Demokrat dan Republikan.

Kita juga mengikuti perhelatan akbar negara-negara besar (kaya) yang disebut G7 Group di Jepang. Indonesia dan beberapa negara “emerging economy” juga diundang hadir sebagai observer di acara yang bergengsi itu.

Tapi yang juga tidak kalah menarik untuk dibahas adalah pertemuan Liga Arab (Arab League) di Saudi Arabia dan untum pertama kalinya kembali mengikuti sertakan Presiden Basyar Al-Asad (Suriah) sejak negara itu diboikot oleh Saudi dan negara-negara anggota Liga Arab lainnya.

Tidak kalah menarik lainnya adalah tiba-tiba saja Raja Salman (Saudi Arabia) menyampaikan undangan kepada Presiden Raisi (Iran) untuk berkunjung ke negara Pelayan Dua Kota Suci Islam (Khadimul Haramain) itu. Undangan ini telah ditindak lanjuti dengan beberapa pertemuan tingkat pejabat tinggi dari kedua negara Muslim besar itu.

Baca Juga: Pertemuan Bilateral Indonesia di KTT G7

Diterimanya kembali Suriah atau Basyar Al-Asad untuk hadir di KTT Liga Arab maupun undangan Raja Salman ke Presiden Iran tentu cukup mengejutkan. Bahkan keterkejutan itu juga bercampur dengan kecurigaan-kecurigaan yang semoga saja tidak benar.

Madu atau Racun

Pertemuan tingkat tinggi Liga Arab yang dihadiri oleh Basyar Al-Asad maupun rencana pertemuan antara Raja Salman atau MBS (Saudi Arabia) dan Presiden Raisi (Iran) tentu memberikan pesan positif. Bahwa semoga semua itu menjadi awal yang baik bagi Timur Tengah yang telah cukup lama berdarah-darah.

Suriah sendiri menjadi porak poranda akibat perang saudara yang melibatkan tangan-tangan luar. Tangan-tangan di sini yang nampak memang kekuatan Barat melawan rejim Basyar. Tapi ada “hidden hands” (kekuatan tersembunyi) di balik dari pertumpahan darah dan pembumi hangusan kota-kota dan kampung-kampung di negara itu. Salah satu yang dicurigai dan memang nampaknya benar adalah kepentingan dominasi Saudi yang juga dikontrol oleh “invisibile power” (kekuatan yang tak nampak).

Dengan rekonsiliasi ini, khususnya antara Saudi dan Iran diharapkan menjadi titik balik untuk perdamaian dan penghentian pertumpahan dan pengrusakan negara-negara di Timur Tengah. Berbagai kekerasan dan pembunuhan di berbagai negara Timur Tengah, baik di Suriah, Irak dan tentunya yang paling nampak saat ini adalah perang saudara yang terjadi di Yaman. Di semua daerah konflik itu secara terbuka atau tersembunyi, langsung atau tidak langsung, diarahkan oleh dua kekuatan dominan Timur Tengah; Saudi Arabia dan Iran.

Sehingga harapan manisnya memang, dengan menormalnya hubungan Saudi dan Iran akan ikut serta menormalkan relasi antar kelompok-kelompok yang bertikai di berbagai belahan Timur Tengah. Jika ini terwujud, tentu akan memberikan ruang bagi masyarakat bawah, rakyat kecil, mereka yang paling banyak dikorbankan dengan konflik-konflik itu, untuk kembali bangkit dan hidup normal. Itulah yang kita sebut sebagai sisi madu dari rekonsiliasi ini.

Namun demikain, tidak dapat juga diragukan bahwa kemungkinan rekonsiliasi ini, baik antara Suriah dan Liga Arab maupun antara Iran dan tetangga-tetangganya khususnya Saudi Arabia, juga menyembunyikan sejumlah kecurigaan bahkan racun yang berbisa.

Baca Juga: Peduli Kemanusiaan, TNI Kirim Bantuan untuk Korban Badai Siklon Tropis di Belesia

Disadari atau tidak, berbagai konflik di Timur Tengah bahkan dunia, melibatkan kekuatan yang saya sebut tadi “hidden power”. Karena namanya juga “hidden” (tersembunyi) tentu tidak etis kalau saya buka. Biarkanlah tersembunyi. Walau sesungguhnya seringkali menampakkan diri tanpa malu-malu.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB