Baca Juga: Kisah Banser Cianjur Jaga Posko Mudik Lebaran 2023: Tidak Pulang Kampung Demi Pemudik
Muslim yang berhasil menjalankan puasa tidak akan memiliki kebencian. Sebab, berpuasa dengan benar akan melahirkan jiwa yang mampu menahan diri dari berkata kotor dan bertindak yang mengundang keributan, baik dalam kondisi terhina maupun terancam perang.
Artinya, lebaran bukan saja merayakan kebersihan jiwa setelah berpuasa, tetapi lebaran bagi seorang muslim adalah merayakan kebersihan hati dari kebencian, permusuhan, dan konflik sehingga mampu menciptakan pribadi yang damai. Sehingga, merayakan Iedul Fitri berarti merayakan semangat perdamaian sebagai hasil dari tarbiyah madrasah ramadhan.
Hari Raya Iedul Fitri dan perdamaian adalah dua keniscayaan yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Ibnu Katsir, mufasir dan ulama kenamaan dari Busra, Suriah. Seorang muslim harus mampu menyemaikan pesan perdamaian yang termaktub di dalam al-Quran Surah al-Baqarah : 208. Menjadi seorang muslim yang kaafah adalah menjadi muslim yang cinta pada perdamaian. Seorang muslim yang merayakan kebersihan hati bak seorang bayi polos dipelukan bundanya. Tak ada setitikpun ia memiliki iri dan dengki. Hatinya hanya dipenuhi dengan sifat-sifat rokhmani yang selalu merayakan hari-harinya dengan semangat Iedul Fitri. Semangat untuk senantiasa merayakan kehadiran perdamaian yang abadi untuk sesama.
Baca Juga: Sajian Makanan dan Minuman Khas Hari Raya