Dia ditemukan dalam keadaan koma: sudah pukul 01.00 dini hari. Dan Meili tetap koma sampai iklan itu terbit. Begitu berat penganiayaan terhadap gadis Meili.
Ditemukanlah rambut kemaluan laki-laki, sidik jari dan sisa sperma di dalam vagina Meili. Itulah bukti kuat untuk membawa perkara ini ke pengadilan.
Malam itu, pukul 20.30, Meili jogging di Central Park. Di taman ini memang banyak orang berolah raga. Jalan kaki, jogging, bersepeda.
Akhir April adalah bulan yang sangat nyaman di New York. Udara sejuk. Sudah tidak dingin tapi belum panas. Pukul 20.00 juga belum terasa terlalu gelap. Daun-daun di Central Park sudah hijau sempurna. Bunga-bunga berkembang lagi endel-endel-nya. Musim semi sudah membuahkan hasil kesempurnaannya.
Meili jogging di dalamnya.
Malam itu segerombolan remaja juga berlarian di Central Park. Sekitar 20 remaja. Semuanya kulit hitam –kecuali satu keturunan Spanyol. Mereka dari kampung tidak jauh dari Central Park.
Seorang pesepeda dipukul. Terjengkang. Makanannya diambil. Minumannya dirampas: bir. Mereka tertawa-tawa. Usia mereka 14 dan 15 tahun. Pesepeda inilah yang lari dan kemudian melapor ke polisi.
Ketika polisi tiba. Gerombolan remaja itu sudah tidak ada di Central Park. Polisi terus menyisir taman yang begitu luas: 3,5 km2. Di dalam Central Park polisi justru menemukan Meili yang tergeletak. Terkulai. Pingsan. Sampai tiga hari kemudian belum tahu kalau yang pingsan itu bernama Meili.
Peristiwa ini sangat menarik perhatian: Central Park, gadis 28 tahun diperkosa, segerombolan remaja kulit hitam, pingsan belum siuman pun setelah 10 hari, luka-luka di sekujur badan, kepala retak.
Media mem-blow up habis-habisan. Karena melibatkan anak di bawah umur dan pemerkosaan, media membuat istilah sendiri untuk peristiwa itu: Kegilaan Central Park Lima.
Polisi lantas melakukan serangkaian penangkapan. Sekitar 20 remaja diciduk. Akhirnya ditetapkan: lima anak sebagai pelaku Kegilaan Central Park Lima.
Satu di antara lima itu mengaku berumur 16 tahun. Namanya Yusef Salaam. Dengan pengakuan itu Salaam dianggap sudah dewasa. Iapun ditahan di rumah tahanan umum. Sedang lainnya ditahan di tempat pendidikan anak.
Salaam ternyata berumur 15 tahun juga. Mungkin awalnya ia kurang peduli dengan umur. Tapi itu sangat merugikan dirinya. ''Salaam pernah berbohong''. Ini menjadi salah satu kelemahannya dalam proses sidang berikutnya.
Baca Juga: Nilakanti 3 Tahun Perjuangkan Keadilan, Diduga Korban Kriminalisasi Oknum Polisi Nekat Temui Kapolri
Peristiwa ini tidak hanya dramatis, tapi juga sensitif. Teknologi juga belum begitu maju. Terutama teknologi DNA. Masalah ras, masalah agama, masalah keamanan dan kesenjangan campur jadi satu.