opini

Ramadhan Bulan Ampunan

Kamis, 23 Maret 2023 | 04:46 WIB
ILUSTRASI RAMADHAN (PIXABAY)

Oleh: Bahaking Rama

Dalam siklus tahunan, kini bulan Ramadhan hadir setelah melewati masa selama 12 bulan. Umat Islam bersyukur atas kedatangan bulan suci Ramadhan. Bersyukur oleh karena usia hidupnya masih sampai pada bulan yang penuh ampunan (bulan magfirah). Setelah fitrah kesucian diri diraih pada Ramadhan tahun lalu, bisa saja kesucian itu ternoda oleh dosa selama dalam hari-hari dan bulan-bulan penantian datangnya bulan ramadah tahun 1444 H ini.

Mungkin disadari, bahwa setelah bulan Ramadan tahun lalu usai, kita (seseorang) tidak lagi aktif shalat berjamaah, misalnya subuh maupun shalat wajib lainnya. Bahkan mungkin saja lalai tidak shalat, kambuh sifat iri hati, pendendan, menghardik anak yatim dan fakir-miskin, atau pelanggaran lainnya dari ajaran agama yang berdampak dosa, menodai fitrah kesuciannya.

Dengan usia hidup ini, maka umat Islam kembali bergembira dan bersyukur, dapat bertemu kembali bulan Ramadan tahun ini, mengharap dosa-dosanya diampuni, untuk kembali kefitrah kesucian. Harapan itu terkandung dalam Kelong:

Baca Juga: BEM PTNU Jawa Barat Gelar Rapat Koordinasi

“BATTUMI BULANG RUMALLANG,
BULANG ALLO’LOSO’ DOSA,
DASI NADASI,
NAKIJARI TUMATAPPA.”

Arti bebasnya: Telah datang bulan suci Ramadan, bulan pengampunan dosa, dengan harapan semoga amalan ibadah di bulan Ramadan ini dapat mengantar meraih derajat Takwa.

Kesucian jiwa-raga, suci dari dosa adalah dambaan setiap insan yang beriman-bertakwa. Allah menciptakan manusia dalam keadaan fitrah, suci dari dosa. Manusia lahir membawa potensi kesucian untuk diarahkan, dibina perkembangannya selama dalam fase-fase kehidupan. Dari fase pranatal, fase bayi, fase anak-anak, fase remaja, fase pemuda, fase dewasa, hingga fase tua dan pikun. Baca QS.Ar-ruum, 30:30.

Pada fase remaja, pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani manusia, memasuki masa baligh-pubertas dengan tanda tertentu msing-masing pada kaum laki-laki dan perempuan. Pada masa baligh inilah, hukum Syar’i berlaku dalam ajaran Islam. Yaitu, laki-laki dan perempuan wajib hukumnya menjalankan ajaran Islam. Bagi yang menjalankan, mendapat pahala dan yang melanggar ajaran, mendapat dosa. Kalau seseorang membiarkan dosanya bertambah dari fase ke fase kehidupannya, tanpa usaha membersihkannya, maka dia menjadi manusia yang rugi, bahkan celaka hidupnya, dunia-akhirat.

Baca Juga: Ramadhan Tiba, Bupati Kabupaten Bandung Minta Ormas Jaga Kondusifitas

Pada bulan Ramadan ini, kesempatan beribadah mensucikan diri dari dosa dan memperbanyak amal saleh-amaliyah ramadan. Kalaupun waktunya ajal sampai, maka setiap diri muslim telah siap kembali ke sang pencipta dengan ridha dan diridhai, tenang kembali dalam keadaan fitrah-suci, sebagaimana fitrah kesucian yang dibawanya sejak lahir. Suci datang dan suci pulang menghadap ilahi, menuju kehidupan abadi di Surga akhirat. Semoga, Aamiin YRA.

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB