Oleh: Yudi Latif
Sesudah syukuran Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa usai, kursi-kursi kembali kosong, mikrofon dimatikan, dan nama-nama selesai disebut. Namun yang tertinggal bukanlah acara, melainkan sebuah pertanyaan: masihkah kita mengenali mata air yang melahirkan Indonesia?
Republik ini tidak lahir dari keseragaman. Ia bertumbuh dari perjumpaan banyak mata air: agama-agama, tradisi-tradisi kepercayaan, dan kebijaksanaan yang mengajarkan manusia menengadah kepada Yang Mahatinggi melalui jalan yang berbeda-beda. Berbeda jalan, sama dahaga: mencari kebenaran, kebajikan, dan kasih.
Karena itu, Indonesia tidak pernah dimaksudkan menjadi benteng bagi satu suara, melainkan ruang perjumpaan bagi banyak nurani, tempat perbedaan menjadi jalan untuk saling memuliakan.
Namun hari-hari ini, banyak mata air kita seperti mengering sebelum mencapai kehidupan bersama. Amanah dikalahkan oleh hasrat berkuasa. Keadilan tertinggal oleh kerakusan. Hukum kehilangan wibawa. Alam diperas tanpa kebijaksanaan. Ruang publik dipenuhi kegaduhan, sementara nurani semakin sulit terdengar.
Sesungguhnya yang sedang kita hadapi bukan hanya krisis ekonomi, politik, atau hukum. Yang sedang kita hadapi adalah kemarau etika. Ketika kebajikan berhenti menjadi penuntun, yang retak bukan hanya negara, melainkan jiwa peradaban.
Karena itu, Hari Kepercayaan tidak cukup dirayakan sebagai pengakuan atas keberagaman. Ia adalah panggilan untuk mempertemukan kembali berbagai mata air kebajikan yang hidup dalam setiap agama dan tradisi kepercayaan.
Semua mengajarkan amanah, kejujuran, keadilan, kasih, dan hormat kepada kehidupan. Nilai-nilai yang semestinya mengalir menjadi etika publik: membersihkan penyelenggaraan negara, menegakkan keadilan, merawat bumi, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Bangsa ini tidak kekurangan ajaran luhur. Yang kita perlukan ialah mempertemukan aliran-aliran kebajikan itu menjadi sungai besar yang menghidupi republik.
Kiranya kita pulang bukan sekadar membawa kenangan tentang sebuah perayaan, melainkan tekad mengubah iman menjadi amanah, kepercayaan menjadi kejujuran, dan spiritualitas menjadi keberanian memperbaiki kehidupan bersama.