opini

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB
Gambar peta indonesia dengan pulau sumatra berwarna hitam yang menandakan blackout masal

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, Christopher H. Achen dan Larry M. Bartels menerbitkan buku penting: Democracy for Realists: Why Elections Do Not Produce Responsive Government (2016).

Buku ini menggucang pengandaian bahwa dalam demokrasi pemilih adalah warga rasional yang menilai kualitas kandidat, mempelajari program, mengevaluasi kebijakan, lalu memilih yang tepat.

Pemilu menjadi katalis yang menghubungkan pilihan rasional dan kepemimpinan responsif.

Bagi kedua penulis, realitas tak sesederhana itu. Pilihan politik lebih sering dibentuk oleh identitas, loyalitas kelompok, afeksi, pengalaman hidup, simbol-simbol kedekatan.

Banyak pemilih bahkan tak memiliki informasi memadai dan tetap mendukung atau menolak pemimpin terlepas dari kinerjanya.

Karena itu, masalah demokrasi bukan pada rakyat yang kurang rasional, melainkan pada harapan berlebihan terhadap kemampuan individu memahami kompleksitas politik modern.

Pelajaran ini relevan bagi Indonesia. Demokrasi tak boleh berhenti sebatas pemilu dan tak bisa disehatkan hanya dengan mengharap juru selamat.

Kita terlampau percaya pada niat tulus pemimpin dan kemampuan rakyat memilih yang terbaik.

Kita kerap menggantungkan harapan pada figur kuat dan visioner, seolah satu orang dapat menuntaskan seluruh persoalan bangsa.

Padahal negara baik bukan yang sesekali melahirkan pemimpin luar biasa, melainkan yang tetap berjalan dengan manusia biasa.

Maka, demokrasi tak seharusnya diandaikan pada keterpilihan yang terbaik, melainkan pada penguatan institusi: haluan negara sebagai konsensus bersama, partai politik sehat, birokrasi profesional, pengadilan independen, media bebas, masyarakat sipil aktif sebagai pengaman siapa pun yang terpilih.

Politik pencitraan bukan masalah utama manusia memang merespons simbol dan figur.

Masalah muncul ketika pencitraan menggantikan institusi, popularitas mengalahkan kapasitas, dan reputasi menggeser akuntabilitas.

Halaman:

Tags

Terkini

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB