Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebuah momen historis yang tak hanya mencatat lahirnya dasar negara, tetapi juga menjadi titik awal terbentuknya identitas kebangsaan kita.
Di tengah derasnya arus globalisasi, polarisasi politik, serta tantangan intoleransi, Pancasila hadir sebagai bintang penuntun (leitstar) yang menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya kumpulan pulau, suku, dan bahasa tetapi sebuah kesatuan yang berdiri di atas nilai-nilai luhur: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan Keadilan.
Namun, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya dengan upacara dan seremonial. Lebih dari itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman dan pengamalan nilai-nilainya, khususnya di kalangan generasi muda. Pancasila harus kembali menjadi napas dalam tindakan, bukan sekadar teks dalam pidato.
Saat ini, bangsa kita menghadapi tantangan serius: disinformasi di media sosial, konflik identitas, hingga degradasi moral. Di sinilah relevansi Pancasila semakin nyata ia menjadi alat pemersatu dan penyejuk dalam keberagaman yang terkadang rawan gesekan.
Oleh karena itu, Hari Lahir Pancasila bukan hanya soal mengingat sejarah, tapi juga menghidupkan kembali semangat gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air. Karena Pancasila bukan hanya milik masa lalu ia adalah janji kita untuk masa depan Indonesia yang lebih adil, damai, dan bermartabat.
Oleh: Siti Ajijah (Sekretaris Jenderal DEMA STAI Al-Azhary)