JournalNusantara.com - Sebagian kecil rakyat di republik ini sedang fokus mencari dan menemukan kebenaran melalui konflik dan permusuhan politik yang pada gilirannya berujung di pengadilan negara.
Padahal kebenaran senyatanya menemukan jalannya sendiri (truth will find its own way) yang berarti kebenaran akan terungkap atau akan terbukti meskipun ada upaya membuat kebenaran itu tersembunyi.
Hal ini menyiratkan bahwa kebenaran bersifat alami dan akan muncul kembali secara otomatis, tidak peduli seberapa besar upaya yang dilakukan untuk menutupi. Bahkan menipu.
Baca Juga: Uedaan...Pemuda Tengil Hina Fisik Jendral Try Sutrisno, Nekat Copot Gigi Mantan Wapres !
Empat Teori Kebenaran
Studi filsafat mengkontruksi kebenaran secara garis besar dikonstruksi dalam empat teori besar.
Pertama, Teori Korespondensi yang berasumsi kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan dan fakta.
Kebenaran jenis ini setara kebenaran hukum yang bersifat objektif, imparsial, dan final. Juga bersumber pada peraturan perundang-undangan atau putusan pengadilan
Kedua, Teori Koherensi yang berpendapat kebenaran itu kesesuaian antara pernyataan dengan sistem pernyataan yang lebih luas.
Teori ini berfokus pada konsistensi dan keselarasan logis dan rasional. Pernyataan dianggap benar jika kebenaran telah diuji dalam konteks sistem pengetahuan yang lebih luas atau dideduksikan dari pernyataan-pernyataan logis yang sudah ada sebelumnya.
Ketiga, Teori Pragmatis dimana kebenaran memiliki konsekuensi positif. Bahwa kebenaran sesuatu dinilai berdasarkan kegunaannya.
Dengan kata lain, bukan kebenaran objektif yang paling penting, melainkan bagaimana gagasan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan nyata dan memberikan hasil positif.
Keempat, Teori Konsensus yang merumuskan kebenaran dikonstruksi berdasarkan kesepakatan atau persetujuan yang dicapai oleh kekelompokan tertentu.