Oleh: Vani Zakiyah
Mahasiswa STAI Al-Azhary Cianjur
Di masa ketika suara perempuan nyaris tak terdengar, dan dunia dikendalikan oleh bayang patriarki, ia hadir, bukan dengan senjata, tapi dengan kata-kata yang tajam dan jujur.
Kartini.
Bukan sekadar nama di buku sejarah, tapi nyala api di tengah gelap, yang berani bicara tentang kebebasan, keadilan, dan hak untuk belajar.
Lewat surat-suratnya, ia menulis tentang mimpi,
tentang dunia yang lebih adil, tempat perempuan tak lagi diam,tak lagi sekadar pelengkap.
Kalau bukan karena keberaniannya, mungkin perempuan hari ini masih dibungkam, masih dilarang bertanya, masih dicegah bermimpi.
“Terima kasih” saja tak cukup. Sekarang giliran kita yang melanjutkan langkahnya. Menjaga suara, menuntut hak, dan memastikan mimpi perempuan tak pernah lagi dianggap kecil.
Saya berharap, semangat Kartini tak hanya diperingati setiap tahun, tapi dihidupi setiap hari. Agar setiap perempuan, dari kota hingga pelosok desa, memiliki ruang yang aman untuk bersuara, bebas untuk bermimpi, dan kuat untuk berdiri.
Karena perjuangan belum usai, dan suara perempuan masih perlu didengar — tanpa syarat, tanpa batas.
Selamat Hari Karitini
Habis gelap terbitlah terang.